Jumat, 16 Maret 2012

Panduan Haji Dan Umroh


1. Haji dan Umroh adalah dua ibadah yang dua-duanya wajib dikerjakan oleh orang Islam yang mampu. sekali seumur hidup. Kalau sesudah itu dikerjakan lagi, maka menjadi ibadah sunah.
Firman Allah swt.: Dan bagi Allah wajib atas manusia berhaji ke Bait (Allah) bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan kepadanya. (Al Baqoroh ayat 97).
Dan firmanNya lagi dalam S. Al Baqoroh ayat 196: Dan sempurnakanlah oleh kamu Haji dan Umroh karena Allah.
Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah saw. bersabda: Haji itu sekali (yang wajib). Maka yang lebih dari itu adalah ibadah sunat. (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Nasa-i dan Hakim)
2. Ada tiga cara orang mengerjakan Haji dan Umroh itu, yaitu:
Mengerjakan Umroh sampai selesai pada bulan-bulan Haji yang bersangkutan, kemudian setelah itu, pada waktunya, mengerjakan Haji sampai selesai. Haji cara ini disebut HAJI TAMATTU'.
Mengerjakan Haji dan Umroh secara bersama-sama sekaligus sampai selesai Haji cara ini disebut HAJI QIRON.
Mengerjakan Haji saja pada waktunya sampai selesai, kemudian sesudah itu mengerjakan Umroh kalau mau. Haji cara ini disebut HAJI lFROD.
Firman Allah swt.: Haji itu pada bulan-bulan tertentu. (Al Baqoroh ayat 197)
Dan dalam hadis diterangkan penjelasan dari Ibnu Abbas: Bulan-bulan Haji yang disebutkan Allah (da(dalam Al Qun'an) adalah Syawal, DzulQo'dah dan Dzulhijjah. (H.R. Bukhari)
3. TAMATTU' dan QIRON dikerjakan oleh orang yang tidak bertepat tinggal di tanah haram. Adapun orang yang bertempat tinggal di tanah haram, maka ia mengerjakan IFROD.
Ibnu Abbas berkata: Lalu mereka mengumpulkan dua ibadah dalam satu tahun, antara haji dan umrah, maka sesungguhnya Allah telah menurunnkan (keterangan)nya dalam kitabnya dan RasulNya telah menyunahkannya dan memperbolehkannya bagi orang-orang selain penduduk Mekah. Allah berfirman: Yang demikian itu bagi yang keluargannya tidak tinggal di tanah haram. (H.R. Bukhari)
4. Orang yang datang dari luar tanah haram yang dalam istilah fiqh disebut AFAQI ada dua macam, yaitu :
·         Yang datang dengan membawa serta kambing atau binatang HADYU, ia harus mengerjakan QIRON.
·         Yang datang dengan tidak membawa serta hadyu, dan ini yang terbanyak, ia harus mengerjakan TAMATTU'.
Ibnu Abbas berkata: Orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansor dan isteri-isteri Nabi saw. berihrom di Haji wada' dan kamipun betihrom. Maka setelah kami sampai di Mekah Raslullah saw berkata: "Jadikanlah ihrommu untuk haji menjadi untuk umroh selain orang yang menuntun hadyu." Lalu kami berthawaf di bait (Allah) dan (sa'i) di Shafa dan Marwah, dan (setelah tahallul) kami menggauli isteri isteri dan mcngenakan pakaian (biasa), dan beliaupun bersabda: "Barang siapa telah menuntun hadyu maka tidak boleh bertahallul baginya sehingga hadyu sampai waktu penyembelihannya." Lalu beliau perintahkan kami pada sore hari Tarwiiyah supaya berihrom untuk haji, maka setelah selesai dari pekerjaan-pekerjaan haji, kami datang (di masjid haram) lalu kami thawaf di bait (Allah) dan sa'i di Shafa dan Marwah. Maka telah sempurnalah haji kami dan kami wajib membayar hadyu. (H.R. Bukhari).
5. Karena kita dari Indonesia tidak mungkin, atau sulit sekali datang dengan membawa serta binatang hadyu, maka kita HARUS MENGERJAKAN TAMATTU'.
6. Oleh karena itu, pelajaran mengenai Haji ini (dalam kitab ini, red.) difokuskan kepada pembicaraan mengenai HAJI TAMATTU'.


HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN HAJI DAN UMROH

1. MIQOT : artinya batasan. Ada dua macam miqot, yaitu:
·         MIQOT ZAMANI, yaitu batasan waktu yang orang boleh mengerjakan haji dan umroh di dalamnya.
·         MIQOT MAKANI, yaitu batasan tempat yang orang harus memulai amalan Haji atau Umroh padanya.
2. Miqot zamani bagi Haji adalah pada bulan-bulan haji, yaitu Syawal, Dzul Qo' dah dan Dzul-Hijjah, seperti diterangkan dalam catatan kaki no. 3. Adapun miqot zamani Umroh adalah sepanjang tahun.
3. Miqot makani bagi Haji dan Umroh untuk orang yang datang dari luar miqot adalah sebagai berikut: Bagi orang Madinah atau orang yang datang dari arah Madinah adalah DZUL HULAIFAH, suatu tempat kurang lebih 12 arah selatan Madinah, atau kira-kira 486 km arah utara Mekah, sekarang orang menyebutnya Bir Ali atau Abar Ali. Bagi orang Syam atau yang datang dari arah Syam adalah JUHFAH, suatu desa dekat Robigh kira-kira 204 km arah barat laut Mekah.Desa tersebut sekarang sudah tidak ada, maka Robigh sekarang yang dijadikan Miqot. Bagi orang Najd atau yang datang dari arah Najd adalah QORNUL MANAZIL, suatu tempat yang orang sekarang menyebutnya As-Sail kira-kira 94 km arah timur Mekah, atau jaraknya dari lapangan terbang King Abdul Aziz di Jedah kurang lebih 220 km. Bagi orang Yaman atau yang datang dari arah Yaman adalah YULAMLAM, suatu tempat kira-kira 89 km arah selatan Mekah.
Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Rasulullah saw. telah menetapkan miqot bagi penduduk Madinah Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam Juhfah, bagi penduduk Najd Qornul-Manazil dan bagi penduduk Yaman Yulamlam. Miqot-Miqot itu bagi (penduduk) negeri-negeri itu dan bagi orang yang datang melalaui negeri-negeri itu yang bukan dari penduduknya yang hendak melakukan haji dan umrah. (HR.Bukhari dan Muslim)
Bagi orang Iraq atau yang datang dari arah Iraq adalah DZATU IRQ, satu tempat kurang lebih 94 km arah timur laut Mekah.
Dari Aisyah, bcliau berkata Sesungguhnya Nabi saw. telah menetapkan miqot bagi penduduk Iraq Dzatu Irq. (H.R. Abu Dawud dan Nasaai)
Bagi orang yang bertempat tinggal di dalam daerah miqot, miqotnya adalah tempat tinggalnya itu. Bagi penduduk Mekah atau orang luar yang berada di Mekah, miqat hajinya adalah tempat tinggalnya di Mekkah.
Dari Ibnu Abbas, beliau berkata: Nabi saw. bersabda: Maka barang siapa keluar ganya tinggal di dalam daerah miqot-miqot maka tempat bermula ihromnya adalah dari (tempat tinggal) keluanganya begitu juga sampai-sampai penduduk.
Adapun miqot umroh bagi penduduk Mekah atau orang luar yang berada di Mekah adalah tanah halal terdekat. Jadi untuk memulai umroh ia harus keluar ke tanah halal terdekat, yaitu ke TAN'IM atau JI'RONAH.
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim diterangkan: Sesungguhnya Rasulullah saw mengirim Aisyah pada waktu Aisyah di Mekah bersama saudaranya Abdurrahman ke Tan'im lalu Aisyah berumroh bersama Abdurrahman dari Tan'im. (H R. Bukhari dan Muslim)
4. Tan'im adalah tanah halal terdekat di Mekah arah sebelah utara. Sedang Ji'ronah kurang lebih 16 km dari pusat kota Mekah ke arah timur laut.
5. Miqot haji dan umroh bagi jamaah haji Indonesia adalah sebagai berikut:
- Yang datang dengan pesawat terbang pada gelombang pertama, yang sebelum ke Mekah ke Madinah dulu, maka miqotnya adalah miqot orang begitu juga yang datang tapi ke Madinah dahulu sebelum ke Me kah.
-Yang datang dengm pesawat terbang pada gelombang kedua, yaitu yang tews ke Mekah sesampainya di lapangan terbang Jedah, maka miqotnya adalah miqot orang Najd, karena melewati Najd, yaitu Qornul Manazil atau As Sail. Jadi berihrom di atas pesawat terbang setelah menjelang di atas As Sail itu. Yang datang dengan kapal laut dan sesampai di pelabuhan Jedah terus ke Mekah, miqotnya adalah miqot orang Yaman, yaitu Yulamlam. Jadi memulai ihrom di atas kapal.
6. Karena kita mengerjakan haji tamattu',maka miqot-miqot seperti diterangkan dalam nomor 5 adalah untuk miqot umroh. Sedang untuk miqot haji kita adalah tempat kita di Mekah. Lebih jauh akan diterangkan nanti.
7. HADYU adalah binatang yang disembelih dalam rangkaian ibadah haji dan umroh, yaitu seekor kambing untuk satu orang, atau seekor sapi untuk 7 orang, atau seekor unta untuk 7 sampai 10 orang. Biasa hadyu ini dinamakan DAM. Sekarang pemerintah Saudi Arabia bekerja sama dengan bank Pembangunan Islam memberikan pelayanan pengelolaan hadyu tersebut.
8. MINA adalah kota kecil di sebelah timur lautMekah, di Mina itu terletak jumroh- jumroh yang dilontari dan di tempat itu Nabi dahulu menginap di malam tanggal 9, 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah. Di tempat itu pula dilakukan penyembelihan Hadyu, di situ pula ada mesjid besar yang bernama Masjid Khoif.
9. JUMROH atau jamroh adalah tonggak, yang menurut riwayat dahulu disitu setan menggoda Nabi Ibrahim sewaktu akan menyembelih Nabi Isma'il. Ada tiga jumrah, yaitu: JUMROH ULA, terletak dekat Masjid Khoif. JUMROH WUSTHO, terletak di antara dua jumrah yang lain. JUMROH , AQABAH, terletak paling dekat ke Mekah. Pada tanggal 10 Dzul Hijjah hanya Jumroh , Aqobah yang dilontar.Pada tanggal 11, 12 dan 13 dilontar ketigatiganya, yaitu Ula, Wustho dan 'Aqobah.
10. NAFAR AWAL adalah sebutan bagi yang melempar jumroh hanya pada tanggal 11 dan 12 DZUl Hijjah.
11. NAFAR TSANI adalah sebutan bagi yang melempar sampai tanggal 13 Dzul Hijjah.
12. MUZDALIFAH adalah tempat di sebelah timur Mina, di tempat itu Nabi dahulu shalat Maghrib dan Isya di malam 10 Dzul Hijjah serta bermalam dan shalat Subuh.

13. MASY'ARIL HARAM adalah bagian barat dari . Muzdalifah yang dahulu Nabi wukuf dan berdoa di sana sebelum melanjutkan perjalannya ke Mina di hari ke 10 Dzul Hijjah pagi sebelum matahari terbit. Ada juga yang mengatakan, bahwa Masy' aril Harom adalah Muzdalifah seluruhnya.
14. NAMIROH adalah tempat di sebelah barat Arofah yang dahulu Nabi berkhutbah dan shalat Dhuhur dan Ashar jamaÆ taqdim pada tanggal 10 Dzul Hijjah. Di tempat itu sekarang didirikan masjid yang bernama MASJID NAMIROH. Bagian sebelah barat dari masjid ini berada di luar Arafah, sedang yang sebelah timur berada di Arafah.
15. AROFAH adalah suatu padang terletak di sebelah timur Muzdalifah. Menurut riwayat, di tempat itu nabi Adam dan isterinya Hawwa bertemu setelah mereka berpisah setelah diturunkan ke bumi. Di Arofah itu Nabi dan para sahabat melakukan wukuf semenjak seusai shalat Dhuhur dan shalat Ashar di Namiroh sampai setelah matahari terbenam di malam ke 10 bulan Dzul Hijjah. Di Arofah itu pula terdapat Jabal Rohmah, sebuah gunung kecil yang Nabi saw. dahulu wukuf di lerengnya.
16. HAJAR ASWAD adalah batu hitam yang sekarang diberi berbingkai perak diletakkan di salah satu sudut ka'bah. Orang disunatkan menciumnya, mengusapnya atau berisyarat..
17. RUKUN YAMANI, salah satu sudut ka'bah sebelum sudut dimana diletakkan hajar Aswad. Pada sudut itu orang sunat mengusap dengan tangan atau berisyarat.
18. MAQOM IBROHIM adalah sebuah batu yang dahulu Nabi Ibrahim berdiri di atasnya waktu membangun ka'bah. Sekarang batu tersebut letaknya dijauhkan sedikit dari ka'bah dan diberi bangunan kecil yang beratap dan di dindingnya sebelah atas diberi kaca. Sesudah thawaf disunatkan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim itu.
19. HIJIR ISMAIL adalah ruang di sebelah ka 'bah yang diberi batas berupa tembuk setengah lingkaran setinggi 1 m. Menurut riwayat dahulu ruang itu termasuk ke dalam ka'bah. Tapi setelah diperbaharui bangunannya, sebelum lslam, ka'bah hanya dibangun seluas seperti sekarang karena keterbatasan. Sehingga Hijir lsma'il itu bisa dianggap bahagian dalam dari Ka'bah.
20. SHOFA adalah gunung kecil tempat orang memulai sa'i. Dan MARWAH adalah gunung kecil tempat orang mengakhiri Sa'i. Tapi saat ini kedua-duanya sudah menjadi bagian dari komplek Masjid Haram dan sudah tidak tampak sebagai gunung.
21. BABUSSALAM atau BABU BANI SYAlBAH adalah salah satu pintu Masjid haram darimana Rasulullah saw. dahulu masuk pada waktu akan melakukan thawaf. Sekarang untuk memasuki pintu itu orang harus melintasi tempat Sa'i.

IHROM

1. Ihrom adalah masuk dalam ibadah dengan niat melakukan Haji dan Umrah atau kedua-dauanya dan dengan menjauhi hal-hal  yang terlarang dalam Ihrom.
2. Ihrom untuk Haji hanya diperbolehkan di bulan-bulan haji. Adapun lhrom untuk Umroh boleh dikerjakan sepanjang tahun. Lihat keterangan pada bab II nomor 2.
3. Miqot makani, selanjutnya disebut miqot, bagi kita dari lndonesia adalah: Yang ke Madinah sebelum ke Mekah adalah Bir Ali; Yang langsung ke Mekah dari Jedah dan datang dengan pesawat terbang adalah Qornul Manazil atau As Sail. Jadi mulai berihrom dari atas pesawat terbang menjelang landing di lapangan terbang King AbdulAziz Jedah kurang lebih 40 menit; Yang langsung ke Mekah dan datang dengan kapal laut adalah Yalamlam. Jadi memulai ihrom di atas kapal menjelang pelabuhan laut Jedah yang biasanya oleh Kapten kapal diberitahukan waktunya. Dan jika kita mengerjakan tamattu' maka miqot tersebut adalah untuk ihrom Umroh.
4. Adapun miqot Haji kita, karena kita hendak mengerjakan Umroh adalah tempat tinggal kita di Mekah.
5. Kalau sewaktu di Mekah kita hendak mengerjakan Umroh, maka kita keluar dahulu ke tanah halal, kemudian memulai ihrom Umroh dari sana, yaitu di Tan'im atau Ji'ronah.
6. Hal-hal yang terlarang karena ihrom adalah:
Bagi laki-laki:
·         1.Memakai pakaian berjahit, seperti baju, celana, sarung dan sebagainya;
·         2.Memakai tutup kepala dan
·         3.Memakai sepatu dan sebagainya yang menutup mata kaki. Sabda Rasulullah saw.: Orang (laki-laki) yang beriman tidak boleh memakai gamis, tidak boleh (memakai) serban, tidak boleh (memakai) kopiah, tidak boleh (memakai) celana, tidak boleh (memakai) pakaian yang dikenai (wewangian) waros dan za'faron dan tidak boleh (memakai) khuf, kecuali kalau tidak menemukan sandal maka hendaklah ia memotong khuf itu di bawah mata kaki. (H R. Bukhari dan Muslim)
Bagi wanita:
·         1.Memakai penutup muka dan
·         2.Memakai kaus tangan dan semacamnya. Rasulullah bersabda: Orang perempuan yang ihrom tidak boleh memakai tutup muka dan tidak boleh memakai dua kaos tangan. (H.R. Ahmad dan Bukhari).
Bagi laki-laki dan wanita:
·         1.Memakai wewangian.
·         2.Memotong rambut atau mencukur kepala, karena perbuatan itu adalah untuk tahallul menandai keluar dari keadaan ihrom;
·         3.Melakukan akad nikah atau melakukan lamaran; Dari Usman Bin Affan, beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Orang yang ihrom tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan tidak boleh melamar. (H.R.Muslim dan lain-lainnya).
·         4.Bersetubuh;
·         5.Berbuat dosa dengan sengaja dan sadar akan ihromnya dan
·         6.Bertengkar dengan sesama BR> Allah swt. berfirman: Barangsiapa mengharuskan diri berhaji pada bulan-bulan itu maka tidak boleh berbuat cabul, tidak boleh berbuat kefasikan dan tidak boleh berbantahan dalam berhaji.
·         7.berburu binatang buruan darat. Tentang larangan memotong kuku bagi laki-laki dan wanita yang dikatakan para ulama, tidak ditemukan dalilnya.
Allah swt. berfirman: Dan diharamkan atas kamu binatang buruan darat selagi kamu berihrom. (S. Al Ma-idah ayat 96).
7. Cara mengerjakan ihrom menurut sunnah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut: Melepas pakaian biasa lalu mandi.
Dari Zaid bin Tsabit, katanya: Saya melihat Nabi saw. berlepas pakaian untuk ihrom beliau dan mandi (H.R. Tirmidzi)
Memakai pakaian ihrom, yang bagi laki-laki berupa dua lembar kain, satu lembar untuk disarungkan dan satu lembar untuk dikemulkan, dan sandal, artinya jangan memakai sepatu yang menutup dua mata kaki. Adapun bagi wanita boleh berpakaian biasa asal menutup seluruh aurat. Dan sebaiknya pakaian-pakaian itu berwarna putih.
Nabi saw. bersabda: Dan hendaklah masing-masing kamu berihrom dalam kain yang disarungkan dan kemul dan sepasang sandal, kalau dia tidak memperoleh maka hendaklah ia memakai dua khuf dan hendaknya ia memotong di bawah mata kaki.
Rasulullah saw. bersabda: Pakailah yang putih dari pakaian-pakaianmu, karena sesungguhnya itu sebaik-baik pakaianmu. Dan kafanilah orang-orang matimu dengannya. (H.R. Abu Dawud).
Merapikan diri dan memakai wewangian bagi laki-laki. Adapun bagi wanita tidak diperkenankan memakai wewangian apabila berada di antara laki-laki lain.
Dari Aisyah, beliau berkata: Adalah aku dahulu memberi Rasulullah saw. untuk ihromnya sebelum be liau berihrom, dan untuk tahallulnya sebelum beliau bertawaf ifadloh pada baitullah. (H.R.Bukhari dan Muslim).
Dari Abu hurairah beliau berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Janganlah kamu menghalangi hamba-hamba perempuan Allah akan masjid-masjid Allah, dan hendaklah mereka keluar dengan tanpa berwewangian. (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)
Tidak ada salat sunat ihrom. Tapi baik kalau memulai ihrom sesudah shalat, baik shalat fardlu maupun salat sunat.
Dan dari Abu Hurairoh pula, katanya: Rasulullah saw. bersabda: Siapapun perempuan yang terkena asap (wewangian) muka janganlah sekali-kali menghadiri shalat Isya yang akhir bersama kami. (H.R. MusHm dan Abu Dawud).
Ada riwayat yang mengatakan, bahwa Nabi salat dua rakaat sebelum memulai ihrom, yaitu hadis lbnu Umar: Kemudian apabila untanya telah tegak berdiri di sebelah masjid Dzil Hulaifah beliau bertalbiyah dengan kalimat-kalimat itu.
Tapi salat Nabi yang dua rakaat itu bukan salat sunat ihrom, tapi salat Dhuhur yang diqoshor. Menurut hadis Anas, katanya: Sesungguhnya Nabi saw. salat dhuhur kemudian menaiki kendaraanya maka setelah tinggi di atas bukit kecil Baidaa beliau bertalbiyah.(H.R. Abu Dawud)
Niyat dalam hati semata karena Allah, dan mengucapkan:
·         1.Bagi yang berumroh: Labbaika µUmrata (Aku penuhi panggilanMu dengan berumroh).
·         2.Bagi yanlg berhaji: Labbaika hajjan (Aku penuhi panggilanMu dengan berhaji).
·         3.bagi yang berumrah dan berhaji: Labbaika µUmrata wa hajjan (Aku penuhi PanggilanMu dengan berumroh dan berhaji)
Umar bin Khattab: Aku dengar Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya amal-amal hanyalah menurut niatnya.(H.R. Muslim)
Dari Anas, katanya: Aku telah mendengar Rasulullah bertalbiyah untuk haji dan umroh semuanya dan mengucap: Aku penuhi panggilanMu dengan berumroh dan berhaji. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Bertalbiyah dengan suara keras dan mengulang-ulangnya. Talbiyah adalah mengucapkan: Aku penuhi panggilanMu, ya Tuhan, aku penuhi panggilanMu. Aku penuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguhnya segala pujian dan nikmat adalah kepunyaanMu, juga kerajaan. Tiada sekutu bagiMu.
Sighat talbiyah ini diriwayatkan oleh Bukhari dan lain-lainnya.
Dari Sa-ib bin Khallad, katanya: Rasulullah saw. bersabda: Jibril telah mendatangi aku lalu menyuruhku supaya aku menyuruh para sahabatku supaya mengeraskan suara dengan ihrom dan talbiyah.(H.R. Tirmidzi)
Membaca talbiyah itu diulang-ulang terus. Dan bagi yang berombongan talbiyah itu tidak usah dipimpin supaya menjadi satu suara. Karena tidak terdapat contoh dari Nabi saw. bahwa bertalbiyah dalam rombongan itu dipimpin, dengan salah seorang dahulu membacanya kemudian diikuti oleh seluruh rombongan secara serempak. Dan berakhir untuk ihrom Umroh pada saat sampai di Hajar Aswad saat memulai tawaf, dan untuk ihrom Haji sampai selesai melontar Jumroh Aqobah di hari ke 10 Dzul-Hijjah.
Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah saw. bersabda: Orang berumroh bertalbiyah sampai ia menjamah Hajar Aswad. (H.R. Abu Dawud).
Fadl berkata: Saya bubaran dari Arofah bersama nabi saw. lalu beliau tidak henti-hentinya bertalbiyah sampai beliau melontar Jumroh 'Aqobah, beliau bertakbir bersama setiap (lontaran) kerikil, kemudian beliau memutus talbiyah bersama kerikil terakhir. (H R. Ibnu Huzaimah).
8. Pelanggaran atas sesuatu yang terlarang karena berihrom, hukumnya adalah sebagai berikut: bagi orang yang dengan sengaja membunuh binatang buruan darat, maka ia harus membayar denda, yaitu menyembelih binatang ternak yang sepadan dengan binatang yang dibunuhnya itu, atau memberi makan orang-orang miskin sebanyak harga binatang itu, atau berpuasa sebanyak hari yang sepadan dengan harga binatang itu. Kesepadanan- kesepadanan itu menurut keputusan dua orang muslim yang adil.
Allah swt. berfirman: Maka barang siapa diantara kamu membunuh (binatang buruan darat) dengan sengaja, maka membayar denda (menyembelih) binatang ternak yang sepadan dengan binatang yang dibunuhnya, yang diputuskan oleh dua orang adil diantara kamu, sebagai hadyu yang disampaikan di ka'bah, atau memberi makan orang-orang miskin atau puasa sepadan itu.
Bagi orang yang karena sesuatu udzur, seperti sakit dan sebagainya, boleh ia me lakukan sesuatu yang terlarang karena berihrom, selain bersetubuh, serta ihromnya tidak menjadi batal karenanya dan wajib membayar denda, yaitu salah satu dari tiga hal tersebut di bawah ini:
·         1.Berpuasa tiga hari,
·         2.Memberi makanan kepada enam orang miskin masing-masing setengah sho' atau kurang lebih 1,55 liter.
·         3.Menyembelih seekor kambing dan menyedekahkannya.
Mengenai pelanggaran larangan hersetubuh ini Imam Malik meriwayatkan: Bahwa telah sampai kepadaku bahwa Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah telah ditanya tentang laki-laki yang menyetubuhi isterinya sedang ia berihrom untuk haji, maka mereka berkata: Keduanya meneruskan pekerjaan mereka sampai mereka merampungkan haji mereka, kemudian mereka wajib berhaji di tahun depan dan menyembelih hadyu. (Tanwirul Hawalik I :344).
Kalau riwayat itu benar, maka itu adalah ijtihad tiga orang sahabat Nabi tersebut. Adapun dari Nabi saw. sendiri tidak didapati keterangan yang cukup kuat mengenai hal itu. Ada juga riwayat lain: Ibnu Hazm meriwayatkan dari Jubair bin Muth 'im, bahwa dia berkata kepada (orang berihrom) yang bersetubuh: Ah, aku tidak bisa memberimu fatwa apa-apa. (Al Muhalla VII: 191)
Allah swt. berfirman: Maka barang siapa diantara kamu sakit atau ada penyakit di kepalanya, maka ia membayar fidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah atau menyembelih binatang. (Al Baqoroh 197)
Dan Rasulullah bersabda kepada Ka'b bin Ujroh yang berkoreng di kepalanya dan harus dicukur untuk penyembuhannya: Bercukurlah, kemudian sembelihlah seekor kambing korban, atau berpuasalah tiga atau memberikan makan tiga sho' kurma kepada enam orang miskin. (H.R. Bukhari Muslim dan Abu Dawud)
Bagi yang tanpa udzur, dengan sengaja melanggar larangan-larangan itu dan mengetahui bahwa itu terlarang serta menyadari ihromnya, maka ia berdosa dan batal ihromnya. Karena dengan demikian berarti ia mengerjakan Haji/Umroh tidak sebagaimana mestinya.
Bagi yang melakukan pelanggaran itu tanpa sengaja, atau tidak mengetahui bahwa hal itu terlarang, atau ia lupa bahwa ia sedang berihrom, maka tidak batal ihromnya dan tidak wajib membayar denda apapun. Ia harus segera meninggalkan pelanggaran itu seketika dia menyadarinya serta beristighfar kepada Allah swt.
Allah swt. berfirman: Tiada dosa atas kamu di dalam hal yang kamu keliru,tapi (yang dosa adalah) yang disengaja oleh hati-hatimu (Al-Ahzab 5)
Dan sabda Rasulullah saw: Dihilangkan (dari catatan) dari umatku kekeliruan, lupa dan yang mereka dipaksa melakukannya. (H R. Thabrani dari Tsauban)

9. Tidak dilarang di dalam ihrom hal-hal sebagai berikut:
·         Berpakaian berwarna, sebab berpakaian putih itu hanya keutamaan.
·         Mandi, menyelam dalam air, memakai bedak atau celak mata asal tidak wangi dan , bercermin, karena tidak ada larangari atas hal-hal tersebut.
·         Memakai kaca mata, arloji tangan, ikat pinggang, cincin dan berganti pakaian, karena tidak ada larangan atas hal-hal tersebut.
·         Memakai payung atau berteduh di bawah pohon, di dalam rumah, kemah, kendaraan dan sebagainya.
Ummu Hushoin berkata: Saya berhaji bersama Rasulullah saw. haji Wada' lalu saya lihat Usamah bin Zaid dan Bilal, yang seorang memegangi kendali onta Nabi saw. dan yang lain mengangkat bajunya melindungi beliau daripanas sampai beliau selesai melempar Jumroh Aqobah.(H R. Ahmad dan Muslim).


TAHALLUL
Tahallul adalah perbuatan yang menandai keluar dari keadaan ihrom ke keadaan halal dengan:
1. Bagi orang laki-laki dengan memotong rambut kepala , atau bercukur. Kalau bercukur, dimulai dari separoh kepala bagian kanan, kemudian separoh bagian kiri.
Dari Mu'awiyah beliau berkata: Saya telah memotong dari (rambut) kepala Nabi saw. di samping Marwah dengan gunting. (H.R. Bukhari).
Ada hadits yang mcnerangkan: Lalu Nabi memanggil tukang cukur, lalu ia memulai mencukur separoh kepala beliau sebelah kanan, lalu membagikan kepada orang-orang yang hampir kepadanya sehelai atau dua helai rambut, kemudian mencukur separoh kepala beliau yang sebelah kiri. (H.R. Abu Dawud)
2. Bagi wanita hanya dengan memotong rambut kepala.
Ibnu Abbas berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tiada keharusan bercukur bagi perempuan. Perempuan hanya harus memotong (rambut kepala). (H.R. Abu Dawud, Daraquthni dan Thabrani)
Dengan tahallul itu orang yang tadinya berihrom diperkenankan mengerjakan hal-hal yang terlarang karena ihrom, kecuali bersetubuh sampai ia selesai mengerjakan thowaf Ifadloh.
Ibnu Umar berkata: Dan Nabi saw. berifadloh lalu thowaf di Baitullah, kemudian halal beliau mengerjakan segala sesuatu yang tadinya beliau haram melakukannya. (HR. Bukhari).
Bagi yang berihrom untuk Haji, memotong , rambut kepala atau bercukur itu dinamakan tahallul awwal, sedang thowaf lfadloh dinamakan tahallul tsani.


THOWAF

1. Thowaf atau tawaf adalah mengelilingi ka'bah dalam Masjid Harom 7 kali putaran dengan niat tawaf.
2. Untuk tawaf ini harus: Bersuci dan menutup aurat seperti dalam salat. Hanya dalam tawaf ini dibolehkan berbicara asal pembicaraan itu baik.
Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Tawaf adalah seperti salat .... Hanya Allah swt. memperbolehkan berbicara di dalamnya. Maka barang siapa berbicara maka janganlah berbicara kecuali dengan bicara yang baik. (H.R. Tirmidzi dan Daroqutni)
Dimulai dari sudut Hajar Aswad dan berakhir di situ.
Ka'bah berada di sebelah kiri orang yang tawaf, dan tidak boleh lewat di atas pondasi ka'bah atau dalam Hijir lsma'il, karena Hiiir lsma'il itu bagian dari ka'bah.
3. Tawaf ada 4 macam, yaitu:
·         THOWAF QUDUM (tawaf kedatangan). Tawaf ini dikerjakan bagi orang yang datang dari luar tanah haram saat baru tiba. Dan bagi orang yang berhaji tamattu' adalah tawaf umroh.
·         THOWAF IFADLOH atau Thowaf Ziyaroh. Thawaf ini dikerjakan pada tanggal 10 Dzulhijjah atau sesudahnya. Thawaf ini harus dikerjakan dan merupakan tahallul tsani hagi yang herihrom haji.
·         THOWAF WADA' (tawaf berpamitan). Tawaf ini dikerjakan saat mau berangkat meninggalkan Mekah. la harus dikerjakan, kecuali wanita yang sedang haid.
Ada hadis yang menerangkan: Orang-orang diperintah supaya akhir urusannya adalah (tawaf) di Baitullah. Hanya orang perempuan yang haid diberi keringanan. (HR. Bukhari dan Muslim)
·         THOWAF TATHOWWU' atau tawaf sunat. Thowaf ini bisa dikerjakan setiap waktu baik siang maupun malam. Dan dianjurkan orang mengerjakannya sebanyak mungkin selama berada di Mekah.
Rasulullah saw. berkata:
Hai Bani abdi Manaf janganlah kamu melarang seseorang tawaf di Baitullah ini dan di saat manapun dia suka baik malam maupun siang hari. (H.R. Ashabus Sunan).
4. Adapun cara mengerjakan tawaf menurut sunnah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut:
Idhthibah', yaitu bagi orang laki-laki meletakkan bagian tengah kain kemulnya di bawah ketiak kanan dan menaruh ujung-ujung kemul itu di atas pundak kiri, sehingga pundak kanan terbuka dan pundak kiri tertutup. lni hanya untuk tawaf waktu datang. Dan sesudah itu kemul itu dikemulkan seperti biasa, terutama waktu salat.
Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. dan para sahabatnya berumroh dari Ji'ronah, lalu mereka berlari-lari kecil di Baitullah dan mereka buat kemul-kemul mereka di bawah ketiak kanan merekah, lalu menyampirkan (ujung-ujung)nya di atas pundak kiri mereka. (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)
Sesampai di sudut Hajar Aswad (di lantai ditandai dengan garis besar berwarna coklat) menghadap Hajar Aswad, lalu menciumnya, atau menjamahnya dengan tangan lalu mencium tangan, atau menyentuhnya seumpama tongkat lalu mencium tongkat, atau berisyarat kepadanya dengan tangan atau sesuatu di tangan. Itu dilakukan setiap kali memulai putaran tawaf.
Ibnu Umar berkata: Rasulullah saw. menghadap Hajar Aswad lalu menjamahnya. (H.R. Hakim)
'Abis bin Rabi' ah berkata: Saya melihat Umar datang ke Hajar Aswad lalu berkata: Sesungguhnya aku tahu benar bahwa engkau adalah sebuah batu. Dan seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw. menciummu, aku tidak akan menciummu. Kemudian dia mendekatinya lalu menciumnya.
Abu Thafail berkata: Saya lihat Rasulullah saw. tawaf di Baitullah dan menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat yang ada padanya dan menciumnya. (H.R.Muslim)
Nafi' berkata: Saya lihat Ibnu Umar mengusap Hajar Aswad dengan tangannya lalu mencium tangannya dan berkata: Saya tidak meninggalkan (cara itu) semenjak saya lihat Rasulullah saw. mengerjakannya. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Abbas berkata: Rasulullah saw. telah bertawaf di atas seekor unta. Setiap kali beliau sampai di sudut (Hajar Aswad) beliau berisyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada di tangan beliau dan membaca takbir. (H.R. Bukhari)
Membaca takbir, yaitu: "Dengan nama Allah, dan AIlah Maha Besar." Inipun dilakukan setiap kali memulai putaran tawaf.
Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya apabila beliau telah mengusap Hajar Aswad mengucap:" Bismillah wa Allahu Akbar". (H.R. Baihaqi)
Perhatian
Mencium Hajar Aswad adalah sunnah, tapi menyakiti orang lain atau menyakiti diri sendiri adalah terlarang. Oleh sebab itu, dalam hal mencium Hajar Aswad ini kita tidak usah terlalu memaksakan diri dalam keadaan sangat berdesakan, terutama bagi kaum wanita. Selain membahayakan fisik, tidak jarang mendatangkan perlengkaran atau melanggar aturan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tidak halaL
Perhatikanlah keterangan di bawah ini:
·         1.Dari Umar bin Khattab, bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya: Hai Abu Hafsh, engkau adalah seorang laki-laki kuat, maka janganlah engkau berdesakan di sudut (Hajar Aswad), karena engkau bisa menyakiti orang yang lemah. Tapi apabila engkau mendapati sepi maka beristilamlah, dan kalau tidak maka bertakbirlah dan berlalu.(H R. Ahmad).
·         2.Ada juga diriwayatkan, bahwa Ummul Mukminin Aisyah berkata kepada seorang perempuan: Janganlah engkau berdesakan di atas Hajar Aswad, kalau engkau lihat kosong maka beristilamlah, dan kalau engkau lihat berdesakan maka bertakbirlah dan baca "Laa Ilaaha Ilallah" apabila engkau sejajar dengannya, dan janganlah menyakiti seseorang. (Lihat Fiqh Sunnah jilid I hal. 595).
5. Kemudian berpaling ke kanan, hingga ka'bah berada di sebelah kiri orang yang tawaf dan, hanya untuk thowaf qudum, berlari-lari kecil 3 kali putaran dan berjalan biasa 4 kali putaran.
Dari Jabir: Sesungguhnya apabila Rasulullah saw. telah sampai di Mekah beliau datang ke Hajar Aswad, lalu menjamahnya. Kemudian berjalan ke arah kanan beliau lalu berlari- lari kecil 3 kali (putaran) dan berjalan biasa 4 kali (putarn). (H.R. Muslim dan Nasai)
Perhatian!
·         1.Ramal, atau berlari-lari kecil, ini hanya untuk laki-laki. Adapun bagi perempuan tidak usah ramal. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa dia berkata: Tidak ada ramal alas perempuun (pada tawaf) di Buitullah, dan tidak (pada sa'i) diantara Shofa dan Marwah.(H R. Daraqutni dan Baihaqi)
·         2.Ramal 3 putaran dan berjalan biasa 4 putaran ini hanya untuk tawaf qudum. Ibnu Umar berkata: Sesungguhnya Nabi saw. dahulu apabila tawaf di Baitullah tawaf yang pertama, berlari-lari kecil 3 kali putaran dan belralan biasa 4 kali putaran. (H R. Bllkhari don Muslim).
·         3. Dalam keadaan orang berdesakan tawaf seperti sekarang ini, harus dijaga jangan sampai menyakiti orang lain atau diri sendiri. Maka apabila berlari-lari kecil itu bisa membahayakan diri sendiri atau orang lain, maka tidak mengapa apabila kita ikuti saja irama orang bertawaf walaupun dengan jalan biasa.
Firman Allah: Allah menghendaki kemuduhan dengan kamu dan tidak menghendaki kesulitan. (Al-Baqoroh 185)
6. Sesampai di sudut yang sebelum sudut Hajar Aswad, atau yang disebut Rukun Yamani, mengusap sudut itu dengan tangan tidak menciumnya. Adapun dua sudut yang sebelum Rukun Yamani itu tidak diusap.
Diriwayatkan dari lbnu Umar, katanya: Sesungguhnya adalah Rasulullah saw. menjamah mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad pada setiap (putaran) tawaf beliau. Dan tidak mengusap dua sudut yang sesudah Hajar Aswad. (H.R. Bukhari dan Muslim)
7. Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad membaca: Ya Robb kami, berilah kami yang baik di dunia dan yang baik di akhirat, dan peliharakanlah kami dari siksa neraka.
Abdullah bin Sa ib berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. mengucap di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aahirati hasanah wa qinaa adwaban naar: (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)
8. Dalam tawaf, tidak ada kemestian bacaan-bacaan doa tertentu untuk setiap kali putaran. Orang boleh berdoa apa yang dia mau menurut keperluannya.
9. Sesudah selesai putaran yang ke 7, selesailah sudah tawaf itu. Lalu menuju ke Maqom Ibrohim, ia kita buat berada di antara kita dan Ka'bah. Lalu membaca bacaan yang artinya: Dan jadikanlah Maqom Ibrohim tempat salat.
10. Lalu shalat di situ dua rakaat. Pada rakaat pertama membaca surat Al-Kaafiruun sesudah Al-Fatihah dan pada rakaat kedua surat Al-ihlas sesudah Al-Fatihah.
Kalau sulit salat di tempat itu karena berdesakan dan sebagainya, boleh salat di tempat lain dalam masjid.
11. Sesudah shalat kembali ke Hajar Aswad, lalu menciumnya, menjamahnya atau berisyarat kepadanya seperti pada permulaan thawaf.
Dari Jabir, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. setelah sampai ke Maqom Ibrohim membaca: Wattakhidzuu mim Maqaami Ibrohima mushollaa. Lalu salat dua rakaat, lalu membaca Al Fatihah dan Qul-Yaa Ayyuhal kaafiruun dan Qul Huwallahu Ahad. Kemudian kembali ke sudut Hajar Aswad lalu menjamahnya, kemudian keluar ke arah Shofa. (H.R. Ahmad, Muslim dan Nasaa'i)

SA'I

1. Sa'i adalah berjalan antara Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali, dimulai dari Shofa dan diakhiri di Marwah. Tempat Sa'i antara Shofa dan Marwah ini sekarang telah menyatu dengan bangunan Masjid Haram.
2. Sa'i ini dilakukan setelah tawaf, baik tawaf Umroh maupun tawaf Ifadloh.
3. Adapun cara melakukan Sa'i menurut sunnah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut: Sesudah mendekati Shofa membaca bacaan yang artinya: Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah termasuk tanda-tanda (peribadatan kepada) Allah. Aku memulai dari apa yang Allah memulai darinya. Naik ke atas Shofa menghadap ke Ka'bah, lalu mengangkat kedua tangan dan membaca bacaan yang artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Tiada sekutu bagiNya. Ke punyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian. Dan Ia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Ia lestarikan janjinya. Dan Ia tolong hambaNya. Dan Ia hancurkan sendiri tentara-tentara (musuh). Bacaan itu diulang tiga kali dan diselingi dengan doa yang dimaui.
Terus turun dari Shofa berjalan menuju Marwah. Sesampai di batas tiang hijau berlari-lari kecil sampai ke batas tiang hijau berikutnya. Lalu berjalan biasa sampai ke Marwah. Diantara dua tiang hijau itu dahulu adalah jurang tempat Nabi saw. berlari-lari kecil Sekarang tempat itu sudah dibuat rata dan diberi tanda tiang hijau berlampu dan beralas marmer. Begitu juga Shofa dan Marwah sudah tidak tampak seperti gunung kecil lagi, tapi hanya tampak seperti tanjakan.
Lari-lari kecil itu hanya untuk laki-laki. Bagi perempuan tidak usah lari-lari kecil, tapi berjalan biasa.
Di atas Marwah diperbuat seperti di atas Shofa, yaitu menghadap ke Ka'bah dan membaca bacaan pada point ke dua di atas.
Diriwayatkan dari Jabir, katanya: Sesungguhnya Nabi saw. setelah dekat dari Shofa membaca: Innas Shofa wal Marwata min Sya'aa-irillaah. Abda-u bimaa badaallahubih. Lalu mulai dari Shofa lalu naik ke atasnya sampai melihat baitullah lalu menghadap kiblat. Lalu membaca kalimat tauhid dan takbir dan mengucap: Laa Ilaaha Illallahu wahdah, Laa syariika lah, LahulMulku wa Lahul Hamdu, Wa Huwa 'alaa kulli syaiin Qodiir. La Ilaaha Ilallahu wahdah, Anjaza wa'dah, Wa Nashoro 'Abdah, Wa Hazamal Ahzaaba Wahda. Lalu berdoa diantara itu lalu mengucap seperti bacaan itu tiga kali. Kemudian turun ke Marwah. Sehingga apabila kedua kaki beliau telah berada di tengah jurang beliau berlari- lari kecil. Sehingga apabila kami mulai menanjak kami berjalan biasa sehingga sampai ke Marwah. Kemudian beliau berbuat di atas Marwah yang beliau perbuat di atas Shofa. (H.R. Ahmad ,Muslim dan Nasa-i)
Abu Hurairoh berkata: Sesungguhnya Nabi saw. setelah rampung dari tawaf beliau, beliau datang ke Shofa, lalu naik ke atasnya sampai melihat Baitullah dan mengmengangkat kedua tangan beliau, lalu mula memuji Allah dan berdoa apa yang beliau mau berdoa. (H.R. Muslim dan Abu Dawud).
Jabir berkata: Sesungguhnya adalah Rasulullah saw. apabila telah tegak di atas Shofa membaca: Allahu Akbar dan mengucap: Laa Ilaaha Illaahu wahdah, laa syariika lah, Lahul Mulku wa Lahul Hamdu, Wa Huwa 'alaa Kulli syai in Qodiir.Berbuat begitu tiga kali dan berdoa. Dan berbuat seperti itu di atas Marwah. (H.R. Bukhari)
Lalu berangkat ke Shofah dengan cara seperti yang tadi diterangkan sampai cukup 7 kali jalan(51) dan berakhir di Marwah. lbnu Umar berkata: Nabi saw. datang lalu tawaf di Baitullah tujuh kali (putaran) lalu salat dua rakaat di belakang Maqom Ibrohim, lalu sa'i di antara Shofa dan Marwah tujuh kali (jalan). H.R. Bukhari)
Dalam sa'i ini selain bacaan yang disebut dalam point pertama dan kedua di atas tidak ada doa.


WUKUF DI ARAFAH

1. Wukuf di Arofah artinya hadir di Arofah pada waktunya, yaitu antara setelah matahari tergelincir ke barat pada tanggal 9 Dzul Hijjah sampai terbit fajar di malam tanggal 10 Dzul Hijjah. Oleh sebab itu hari tanggal 9 Dzul Hijjah dinamakan hari Arofah.
2. Wukuf di Arofah ini adalah puncak amalan ibadah haji. Tanpa wukuf di Arofah secara sah maka tidak sah hajinya.
Diriwayatkan oleh Abdurrohman bin Ya'mur: Lalu (Rasulullah saw.) menyuruh seseorang berseru: Haji adalah Arofah. barang siapa datang (di Arofah) di malam Muzdalifah sebelum terbit fajar maka ia memperoleh (wukuf). (H R. Ahmad, Timidzi, Nasa-i, Abu Dawud da'l Ibnu Majah)
3. Adapun cara melakukan wukuf menurut sunnah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut: Pada tanggal 9 Dzul Hijjah menjelang waktu Dhuhur berada di Namiroh. Setelah masuk waktu Dhuhur diadakan khutbah, lalu adzan iqomat dan salat jama'ah Dhuhur dengan qosor, lalu iqomat dan jama'ah salat Asaar dengan qosor. Setelah salat Dhuhur dan Asar jama' taqdim dan qosor, lalu pergi ke tempat wukuf, yaitu di Arofah. Setelah berada di tempat wukuf lalu menghadap ke kiblat, berdoa dengan mengangkat tangan. Boleh berdoa dengan doa apa saja yang disukai sesuai keperluan. Dan boleh juga membaca Al-Qur'an. Setelah terbenam matahari di hari ke 9 itu, lalu berangkat meninggalkan Arofah menuju Muzdalifah, dan tidak melakukan salat maghrib dan Isya di Arofah.
Jabir berkata (hanya diambil yang perlu): Lalu Rasulullah saw. melintas sampai datang ke Arofah, lalu mendapati kemah telah didirikan untuk beliau di Namiroh lalu beliau singgah di dalamnya. Sehingga apabila matahari telah tergelincir (ke barat) beliau menyuruh disiapkan (Unta) Qoswaa lalu datang ke tengah-tengah lembah, lalu berkhutbah kepada orong-orang ... lalu adzan lalu iqomat lalu salat Dhuhur, lalu iqomat lalu salat 'Ashar dan tidak salat apa-apa di antara kedua salat itu. Kemudian Rasulullah saw. menunggang (untanya) sampai datang ke tempat wukuf ... dan menghadap kiblat. Maka beliau berwukuf sampai matahari terbenam. (H R. Muslim)
Usamah bin Zaid berkata: Adalah aku dahulu membonceng Nabi saw. di Arofah, lalu (saya lihat) mengangkat kedua tangan beliau berdoa. (H.R. Nasa-i).

MABIT Dl MUZDALIFAH DAN WUKUF DI MASY'ARIL HAROM

1. Mabit di Muzdalifah artinya menginap di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah selepas dari wukuf di Arofah.
2. Muzdalifah juga dinamakan Jam'. Dibagian sebelah barat dari Muzdalifah ini terletak Masy'aril Harom. Tapi ada orang yang mengatakan bahwa Masy' aril Harom adalah Muzdalifah seluruhnya. Di tempat itu kita berwukuf setelah shalat Subuh sebelum berangkat menuju Jumroh Aqobah.
3. Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an: Setelah kamu meninggalkan Arofah maka berdzikirlah mengingat Allah di Masy'aril Harom. (Al Baqoroh 198)
4. Cara mabit di Muzdalifah dan wukuf di Masy'aril Harom menurut sunnah Rasulullah adalah sebagai berikut: Shalat berjamaah Maghrib dan Isya dengan jama' dan qosor di Muzdalifah dengan 1 kali adzan dan 2 kali iqomat, tanpa ada shalat sunat di antara keduanya. Sesudah shalat beristirahat tidur sampai terbit fajar. Setelah terbit fajar shalat berjamaah Subuh dengan 1 kali adzan dan 1 kali iqomat. Selesai shalat Subuh lalu berwukuf di Masy'aril Harom, berdo'a membaca takbir dan Laa Ilaaha illalloh, sampai terang. Kemudian berangkat ke tempat Jumroh Aqobah di Mina sebelum matahari terbit.
Jabir berkata: Dan Nabi saw. berangkat sampai datang ke Muzdalifah, lalu shalat Maghrib dan Isya dengan adzan sekali dan dua kali iqomat, dan tidak shalat (sunat) di antara keduanya. Kemudian berbaring (tidur) sampai terbit fajar: Lalu shalat Subuh setelah jelas waktu Subuh dengan sekali adzan dan sekali iqomat. Kemudian mengendarai Qoswaa sehingga sampai di Masy'adl Harom lalu menghadap kiblat, bertakbir, bertahlil dan membaca kalimat tauhid lalu terus bewukuf sampai terang benar. Lalu berangkat sebelum terbit matahari. (H.R. Muslim)
Shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah, seperti diterangkan pada no. 4 point pertama, tidak di Arofah atau di tempat-tempat sebelum Muzdalifah, begitu juga shalat Subuh di Muzdalifah sangat penting diperhatikan, karena: Rasulullah saw. setelah meninggalkan Arofah, sebelum sampai di Muzdalifah telah ditawari untuk shalat Maghrib oleh Usamah bin Zaid, lalu beliau menolak dan mengatakan bahwa tempat shalat pada saat itu adalah di Muzdalifah. Kata Usamah bin Zaid: Rasullah saw. menyingkir setelah berangkat dari Arofah ke salah satu celah gunung yang ada di sana untuk buang air. Lalu aku menuang air atasnya, lalu aku bertanya: Apakah paduka akan shalat? Beliau menjawab: Tempat shalat ada di mukamu. (H.R. Muslim).
Dari Mudlorris at Tho-i, katanya: Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa shalat Subuh di (Muzdalifah) sini lalu tinggal bersama kami, dan sebelum itu sudah wukuf di Arofah di malam hari atau siang hari (sebelumnya) maka telah sempurna hajinya. (H.R. lbnu Hazm)
Bagi orang-orang lemah, sakit dan sebagainya diberi keringanan, boleh meninggalkan Muzdalifah sebelum fajar.
Aisyah berkata: Adalah Saudah seorang yang gemuk yang berat bergerak, lalu dia meminta izin kepada Rasulullah saw. untuk meninggalkan Muzdalifah di waktu malam, lalu beliau memberinya izin (H R. Muslim)
Dari Ibnu Abbas, katanya: Aku adalah termasuk orang yang diberangkatkan dahulu oleh Rasulullah saw. dalam rombongan keluarganya yang lemah-lemah. (H.R Muslim)
Dari Urwah, dia berkata: Nabi saw. berkeliling ke tempat Ummu Salamah pada hari Nahar, lalu beliau menyuruhnya segera meninggalkan Muzdalifah, sehingga sampai di Mekah, lalu shalat Subuh di sana (H.R. Syafi-i dan Baihaqi).

MELONTAR JUMRAH

1. Ada tiga buah Jumroh di Mina, yaitu: Jumroh 'Aqobah, terletak paling dekat ke Mekah Jumroh Wustho, yang terletak di tengah. Jarak antara Jumroh , Aqobah dan Jumroh Wustho kurang lebih 117 m. Jumroh Ula, yang terletak dekat Masjid Khoif. Jarak antara Jumroh Wustho dan Jumroh Ula kurang lebih 156,5 m.
2. Pada tanggal 10 Dzul Hijjah yang dilontar hanyalah Jumroh 'Aqobah. Rasulullah saw. melontarnya pada tanggal 10 Dzul Hijjah setepas Muzdalifah setelah matahari terbit. Ada riwayat yang mengatakan bahwa sebahagian orang yang diizinkan oleh Rasulullah meninggalkan Muzdalifah sebelum fajar, melontar Jumroh Aqobah sebelum matahari terbit bahkan sebelum terhit fajar, tapi ada yang tegas-tegas melarang melontarnya sebelum matahari terbit bahkan untuk keluarga beliau yang diizinkannya meninggalkan Muzdalifah di malam hari. Oleh sebab itu kita harus usahakan melontarnya setelah matahari terbit. Dan tidak mengapa seandainya kita melontarnya di sore hari sekembali kita dari Mekah melakukan towaf Ifadloh.
Jabir berkata: Rasulullah saw. melontar Jumroh ('Aqobah) pada hari Nahar pada waktu Dluha. Adapun yang sesudah itu maka setelah matahari tergelincir (H R. Muslim).
lbnu Abbas berkata: Sesungguhnya Nabi saw. memberangkatkan lebih dulu (sebagian) keluarga beliau dan menyuruh mereka tidak melontar Jumroh 'Aqobah sampai terbit matahari. (H.R. Tirmidzi dan ibnu Hibban)
lbnu Abbas berkata: Adalah Rasulullah saw. dahulu ditanya pada hari Nahar di Mina, lalu beliau menjawab: Tidak apa-apa. Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada beliau: Saya telah bercukur sebelum menyembelih (hadyu) ? Beliau menjawab: menyembelihlah, tidak apa-apa. Lalu orang itu bertanya: Saya melempar (Jumroh) sesudah sore Lalu beliau menjawab: Tidak apa-apa. (H.R. Bukhari)
3. Adapun yang dilontar pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzul Hijjah adalah tiga Jumroh tersebut semuanya. Dimulai dari Jumroh Ula, lalu Jumroh Wustho dan Jumroh 'Aqobah. Adapun waktunya melontar di hari-hari itu adalah setiap setelah matahari tergelincir ke barat. Jangan sampai kita melontar sebelum waktunya.Orang boleh hanya melontar pada dua hari, yaitu pada tanggal 11 dan 12. Dan itu dinamakan nafar awal. Dan boleh juga sampai tanggal 13. Dan itulah yang dinamakan nafar tsani.
Hadits riwayat lbnu Umar: Adalah kami dahulu menunggu-nunggu, maka apabila matahari telah tergelincir kami melontar. (H.R. Bukhari)
Firman Allah s.w.t: Dan berdzikirlah, kepada Allah di hari-hari (tasyriq) yang berbilang. Maka barang siapa bersegera pada dua hari maka tidak ada dosa atasnya, dan barang siapa sampai akhir maka tidak ada dosa atasnya, bagi orang yang bertaqwa. (AIBaqoroh 203)
4. Cara melontar Jumroh 'Aqobah pada tanggal 10 Dzul Hijjah menurut sunnah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut: Kerikil yang digunakan melontar masing-masing sebesar kerikil lontaran, yaitu sebesar kacang. Rasulullah saw. menyuruh memungutnya waktu tiba di Muhassir sepulang dari Muzdalifah. Tapi dipungut dimanapun boleh.
Fadl bin Abbas berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. di sore hari Arofah dan pagi hari Muzdalifah berkata kepada orang-orang waktu mereka berangkat: Kamu harus tenang! Dan beliau menarik kekang unta beliau sampai masuk ke lembah Muhassir (dia termasuk daerah Mina), beliau bersabda: Kamu ambillah kerikil lontaran yang akan digunakan melempar jumroh. (H.R. Muslim)
Melontar dari arah tenggara Jumroh 'Aqobah, sehingga kiblat terletak di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan pelempar.
Ada diriwayatkan: Sesampai Ibnu Mas'ud di Jumroh 'Aqobah, lalu dibuatnya Baitullah pada arah kirinya dan Mina pada arah kanannya dan melontar tujuh kali dan berkata: beginilah Rasulullah saw. melontar. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Membaca Allahu Akbar beserta setiap kali lontaran. Dan setelah selesai tujuh kali lontaran membaca doa yang artinya: Ya Allah, jadikanlah dia haji yang mabrur dan menjadikan dosa terampuni.
Diriwayatkan: Sesampainya Ibnu Mas'ud ke Jumroh 'Aqobah, lalu melontarnya dari tengah-tengah lembah dengan tujuh kerikil, dalam keadaan menunggang dan bertakbir beserta setiap kerikil, dan mengucap: Allahumma Ij'alhu Hajjan mabrura, wa dzanban maghfuura. Dan katanya: Disini dahulu Rasulullah saw. berdiri. (H.R. Ahmad)
5. Adapun cara melontar tiga jumroh pada hari-hari tasyriq menurut sunnah Rasulullah saw. adalah sebagai berikut: Dimulai melontar Jumroh Ula tujuh kali, dan membaca takbir bersama setiap lontaran. Lalu menyisih ke tempat yang longgar, berdiri menghadap kiblat dan berdoa dengan mengangkat kedua tangan. Lalu melontar Jumroh Wustho tujuh kali, dan membaca takbir bersama setiap lontaran. Lalu menyisih ke tempat yang longgar, berdiri menghadap kiblat dan berdoa dengan mengangkat kedua tangan, lebih lama dan yang pertama. Lalu melontar Jumroh 'Aqobah tujuh kali, dan membaca takbir bersama setiap lontaran dari arah tenggara Jumroh. Lalu menyingkir tanpa berdiri untuk berdoa.
Salim berkata: Sesungguhnya Ibnu Umar pernah melontar Jumroh Ula dengan 7 kerikil sambil bertakbir beserta setiap kerikil lalu maju ke tempat yang datar lalu berdiri lama menghadap kiblat sambil berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Kemudian melontar Jumroh Wustho lalu mengambil arah ke kiri pergi ke tempat yang datar lalu berdiri menghadap kiblat kemudian berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri lama. Kemudian melontar Jumroh 'Aqobah dari tengah lembah dan tidak berdiri di situ kemudian menyingkir dan berkata: Begitulah saya lihat Rasulullah saw. berbuat. (H R. Ahmad dan Bukhari).

MENYEMBELIH HADYU

1. Hadyu adalah binatang yang disembelih di tanah harom Mekah dalam rangka ibadah haji atau umroh. Para ulama Fiqh menamakannya DAM, yang berarti darah, karena binatang tersebut ditumpahkan darahnya waktu disembelih.
2. Hadyu ini paling tidak berupa seekor kambing untuk 1 orang atau seekor unta atau seekor sapi untuk 7 orang.
Jabir berkata: Kami telah melakukan haji bersama Rasulullah saw. lalu kami menyembelih onta untuk tujuh (orang) dan sapi untuk tujuh (orang). (H.R. Ahmad dan Muslim)
3. Ada bermacam-macam hadyu yaitu:
Hadyu karena haji tamattu' atau qiron. Hukumnya wajib. Dan apabila tidak mampu, diganti dengan puasa 10 hari. 3 hari pada waktu haji dan 7 hari setelah pulang. Penyembelihannya dilakukan pada hari Nahr dan hari-hari Tasyriq, di Mina atau di Mekah. Yang empunya hadyu boleh ikut memakannya. Kalau menyembelihnya atau menanganinya diupahkan orang, maka tidak boleh memberinya upah dari daging hadyu itu.
Firman Allah swt.: Maka barang siapa bertamattu' dari Umroh ke Haji, maka (ia membayar) hadyu yang mudah. Maka apabila ia tidak mendapatkannya, maka berpuasa tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari sesudah pulang, denikian itu lengkap sepuluh hari. (Al Baqaroh 197)
Sesudah Rasulullah saw. melontar Jumroh di hari ke 10 Dzul Hijjah, menurut Jabir: Lalu beliau pergi ke tempat penyembelihan, lalu menyembelih (dengan tangan beliau sendiri) 63 ekor unta, kemudian menyerahkan yang selebihnya kepada Ali. (H.R. Muslim)
Dan sabda Rasulullah yang lain: Dan semua hari-hari tasyrik adalah (waktunya) menyembelih. (H.R. Ahmad)
Jabir berkata: Semua daerah Mina adalah tempat menyembelih, dan semua daerah Muzdalifah adalah tempat wukuf; dan semua lorong-lorong Mekah adalah jalan dan tempat menyembelih. (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Jabir berkata: Kemudian (Rasulullah saw.) menyuruh mengambil sepotong daging dari setiap unta, lalu ditaruh dalam kuali lalu dimasak lalu beliau dan Ali bin Abi thalib memakan dagingnya dan meminum kuahnya. (H.R. Muslim)
Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah saw. menyuruhku mengurus unta-unta beliau dan membagi kulit-kulitnya dan pakaian-pakaiannya. Dan menyuruhku tidak memberi tukang sembelih dari unta- unta itu apapun. Dan dia berkata: Kami memberinya (upah) dari kami sendiri. (H.R. Jamaah)
Hadyu karena terpaksa melakukan sesuatu yang terlarang karena ihrom, karena sakit dan sebagainya. Denda ini, seperti telah diterangkan di bab sebelumnya boleh dipilih diantara tiga hal di bawah ini:
·         Berpuasa tiga hari
·         Memberi makanan kepada enam orang miskin masing-masing setengah sho' atau kurang lebih 1,55 liter.
·         Menyembelih seekor kambing dan menyedekahkannya.
Hadyu karena ihshor, yaitu terhalang tidak bisa menyelesaikan ibadah haji atau umroh, baik karena dihadang musuh, karena kecelakaan, karena sakit atau karena lainnya. Orang yang terhalang itu disebut Muhshor. Ia boleh bertahallul tidak melanjutkan ibadahnya setelah menyembelih hadyu. Kalau mungkin, dia harus mengirim hadyu itu ke Mekah dan baru bertahallul sesampai hadyu itu di Mekah dan disembelih disana. Tapi kalau tidak mungkin, ia boleh menyembelihnya di tempat ia terhalang, lalu bertahallul.
Firman Allah swt.: Maka apabila kamu terhalang (menyelesaikan ibadah haji alau umroh) maka menyembelih hadyu yang mudah. Dan jangan kamu menyukur kepalamu sehingga hadyu itu sampai ke tempat penyembelihannya. (Al-Baqoroh 196)
Ibnu Abbas berkata: Adapun barang siapa dihalangi oleh musuh atau lainnya, maka dia bertahallul dan tidak harus kembali (mengulang tahun depan). Dan apabila telah membawa serta hadyu, padahal dia muhshor ia boleh menyembelihnya apabila ia tidak bisa mengirimnya (ke Mekah). Dan apahila dia bisa mengirimnya, maka dia tidak hertahallul sehingga hadyu itu sampai di tempat penyembelihannya. (H.R. Bukhari)
Miswar dan Marwan bcrkata: Sesungguhnya Nabi saw. setelah selesai dari urusan perjanjian (Hudaibiyah) bersabda kepada para sahabat beliau: Berdirilah lalu menyembelih kemudian bercukurlah. (H R. Ahmad, Bukhari dan Abu Dawud)
Hadyu untuk membayar tebusan karena membunuh binatang buruan darat. Maka orang bersangkutan harus menyembelih ternak yang sepadan dengan binatang yang dibunuhnya, atau dibayar dengan makanan yang diberikan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa. Besar dan jenis binatang hadyu, banyak makanan yang diberikan atau banyaknya hari puasa adalah menurut keputusan dua orang muslim yang adil.
Hadyu wajib karena nadzar. Maka orang yang nadzar harus melaksanakannya sesuai dengan nadzarnya.
Dari Aisyah: Sesungguhnya RasuIuIIah saw. bersabda barang siapa bernadzar akan berbakti kepada Allah maka berbaktilah. Dan barang siapa bernadzar akan mendurhakai Allah maka janganlah jadi mendurhakaiNya. (H R. Ahmad dan Bukhari)
Hadyu tathowwu, atau hadyu sunat. Boleh saja orang menyembelih hadyu sunat berapapun dia suka. Rasulullah saw. menyembelih untuk diri beliau sendiri dan Ali bin Abi Thalib; pada waktu haji wada'. 100 ekor unta. Padahal hadyu yang wajib untuk beliau dan untuk Ali masing-masing hanya l/7 seekor unta.
4. Di samping macam-macam hadyu di atas, ada bermacam-macam hadyu yang tidak ada kemestiannya baik dalam Al-Qur’an maupun dari Rasulullah saw., tapi ditetapkan oleh berbagai kalangan ulama berdasarkan penalaran mereka, yaitu seperti diterangkan di bawah ini: Hadyu karena meninggalkan sesuatu amalan haji atau umroh menurut mereka yang termasuk katagori wajib. Ini dikiaskan dengan hadyu tamattu' dan qiron. Hadyu karena melakukan sesuatu hal yang terlarang karena ihrom baik dengan sengaja maupun tidak dengan sengaja. lni dikiaskan dengan hadyu yang harus dibayar oleh orang yang karena udzur sakit dan sebagainya diperbolehkan melakukan sesuatu yang tadinya terlarang. Hadyu untuk kafarat orang melakukan persetubuhan dalam ihrom. Bermacam-macam denda atas pelanggaran yang dianggap lebih ringan.
Karena Haji dan Umroh adalah ibadah mahdloh yang semua aturannya harus berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. maka kami setuju perkataan orang yang mengatakan, bahwa dalam hal hadyu dan denda-denda lain yang ada hanyalah yang tcrcantum dalam no. 3 di atas.

MABIT DI MINA

1. Mabit di Mina atau bermalam di Mina, kebanyakan diartikan orang: bermalam di Mina pada malam hari-hari Tasyriq.
2. Sebenarnya Rasulullah saw. dalam perjalanan haji beliau ada bermalam di Mina pada malam hari Arofah. Nabi berangkat dari Mekah pada hari Tarwiyah, lalu salat Dhuhur dan Asar tanggal 9 serta Magrib, Isya dan Subuh tanggal 10 di sana, lalu setelah terhit matahari berangkat ke Namiroh. Dan kemudian beliau bermalam lagi di Mina pada malam hari-hari Tasyriq yang siangnya beliau melontar jumrah-jumroh setelah matahari tergelincir ke barat.
Kata Jabir: Setelah hari Tarwyah, mereka menuju Mina lalu berihrom untuk haji, dan Rasulullah saw. mengendarai (unta beliau) lalu salat Dhuhur, Asar, Maghrih, ‘Isya dan Subuh di Mina. Kemudian berhenti sebentar sampai terhit matahari. (H.R. Muslim). Kata Aisyah: Rasululloh saw. bertawaf Ifadloh di hari akhir sewaktu shalat Dhuhu, kemudian kembali ke Mina lalu tinggal di Mina pada malam hari Tasyriq melontor Jumroh. (H.R. Ahmad danAbu Dawud)
3. Memang ganjil, bahwa orang memandang bermalam di Mina pada malam hari Arofah itu hanya sunat, yang orang boleh meninggalkannya tanpa resiko apa-apa hanya karena Rosululllah saw. pernah membiarkan Aisyah terlambat berangkat ke Mina dari Mekah sampai setelah lewat sepertiga malam. Tapi sementara itu mereka memandang bermalam di Mina pada malam hari-hari tasyriq sebagai wajib, padahal Rasulullah saw, memberi ijin kepada Abas bin Abdul Muthalib untuk bermalam di Mekah. dan kepada para pengemba1a untuk tidak bermalam di Mina pada malam hari-hari tasyriq itu.
Diriwayatkan dari Aisyah: Sesungguhnya Aisyah tidak keluar dari Mekah sampai malam lewat sepertiganya. (H.R. Ibnul Mundzir Nailul Authar IV 60 dan Fiqh Imam Abu Tsaur 365). Diriwayatkan dari Ibnu Umar: Sesungguhnya Abbas bin Abdul Muthallib r.a. memohon ijin kepada Rasulullah saw. untuk bermalam di Mekah pada malam-malam (orang menginap di Mina) karena tugas memberi minum (orang haji), lalu beliau memberinya ijin. (H.R. Bukilari dan Muslim). Dari ‘Ashim bin ‘ady: Sesungguhnya Nabi saw. memberikan keringanan kepada para penggembala untuk bermalam di luar Mina, mereka melontar pada hari Nahar lalu melontar dua hari, lalu melontar di hari bubaran. (H.R. Al Khomsah dan Tirmidzi dan Ibnu Hibban menganggapnya sahih).
4. Bagi kita karena bermalam di Mina baik pada malam hari Arofah maupun pada malam hari-hari Tasyrik, kedua-duanya dilakukan oleh Rasulullah s aw. maka kita usahakan sedapat-dapatnya bisa melakukannya sesuai contoh Rasulullah saw. dan kalau ada keringanan, maka keringanan itu kita ambil apabila cukup alasan.
Firman Allah swt.: Dan berbaktilah kamu kepada Allah sebisa-bisamu. (At Taghobun 16).

SIFAT HAJI RASULULLAH (HAJJATUR RASUL SAW)

Sumber utama dari uraian tentang Sifat Haji Rasulullah saw. ini adalah hadits Jabir bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Sahihnya (Sahih Muslim IV hal. 39 dst.). Di sini hadits Jabir itu hanya dikutip seberapa perlu dengan setiap kutipan didahului pada catatan hadits dengan "Kata Jabir". Dan dan dalam hal disisipkan/ditambahkan keterangan dari sumber lain, maka sumber itu disebutkan tersendiri dalam catatan kaki.
Adapun sifat haji Rasulullah saw., atau cara Rasulullah menunaikan haji adalah sbb:
1. Rasulullah saw. menunaikan haji pada tahun ke-10 H.
Kata Jabir: Sesungguhnya Rasulullah saw tinggal ( di Madinah) sembilan tahun tidak menunaikan haji, kemudian beliau mengumumkan kepada orang-orang pada tahun kesepuluh bahwa Rasulullah saw akan menunaikan haji.
2. Setelah diumumkan bahwa Rasulullah saw. akan menunaikan haji banyak orang yang datang ke Madinah ingin mengikuti Nabi saw menunaikan haji dan mengikuti amlan-amalan yang dilakukan beliau dalam menunaikan haji.
Kata Jabir: Lalu datang ke Madinah banyak orang, semuanya berusaha mengikuti Rasulullah saw dan beramal seperti amalan beliau.
3. Nabi saw bersama kaum muslimin lalu keluar ke Madinah menuju Dzul hulaifah pada hari sabtu tanggal 25 Dzul Qo'dah.
Kata Jabir: Lalu kami keluar sampai datang ke Dzul Hulaifah.
4. Sebelum berihrom beliau melepas pakaian lalu mandi. Lalu mengenakan pakaian ihrom yang terdiri dari selembar kain yang disarungkan dan selembar kemul dan sepasang sandal. . Lalu badan beliau diolesi wewangian oleh istri beliau Aisyah.
Dari Zaid bin Tsabit, katanya: Saya melihat Nabi saw berlepas pakaian untuk ihrom beliau dan mandi (HR. Tirmidzi).
Diriwayatkan oleh Ahmad, Nabi saw bersabda: Dan hendaklah masing-masing kamu berihrom dalam kain yang disarungkan dan kemul dan sepasang sendal, kalau dia tidak memperolehnya maka hendaklah ia memakai dua khuf dan hendaknya ia memotongnya di bawah mata kaki
Dari Aisyah, beliau berkata: Adalah aku dahulu memberi wewangian Rasulullah saw untuk ihromnya dan untuk tahalulnya sebelum beliau berthawaf ifadloh pada baitullah (HR. Bukhari Muslim)
5. Menjelang ihrom Rasulullah sholat dua rakaat. Ibnu Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad I hal 177 mengatakan bahwa sholat dua rakaat yang dilakukan olah Rasulullah itu adalah sholat Dzuhur yang di Qosor.
Kata Jabir: Lalu Rasulullah saw sholat di Masjid (Dzul Hulaifah)
Hadits dari Ibnu Umar: Kemudian apabila untanya telah tegak berdiri disebelah masjid Dzul Hulaifal beliau bertalbiyah dengan kalimat-kalimat itu.
Menurut hadits Anas, katanya: Sesungguhnya Nabi saw sholat Dzuhur kemudian menaiki kendaraanya maka setelah tinggi di atas bukit kecil Baidaa beliau bertalbiya (HR Abu Daud).
6. Kemudian Rasulullah saw memulai ihrom untuk haji dan umroh dan mengucap: Labbaika umrotan wa hajja
Dari Anas, katanya: Aku telah mendengar Rasulullah bertalbiyah untuk haji dan umroh semuanya dan mengucap: Aku penuhi panggilanMu dengan berumroh dan berhaji (HR. Bukhari dan Muslim).
7. Setelah beliau menunggang unta beliau yang bernama Qoswaa dan tegak di atas Baidaa beliau bertalbiyah, yaitu mengucap talbiyah.
Kata Jabir: Lalu beliau menunggang Qoswaa, sampai apabila telah tegak unta beliau di atas Baidaa, lalu beliau bersuara keras dengan kalimat tauhid: Labbaik Allahummma labbaik Labbaika Laa syarika laka Labbaik, Innal hamda wan Ni'mata laka wal mulk, Laa Syariika Lak.
8. Nabi menyuruh mereka bertalbiyah dengan suara keras.
Dari Saib bin Khallad, katanya: Rasulullah saw bersabda: Jibril telah mendatangi aku lalu menyuruhku supaya aku menyuruh para sahabatku supaya mengeraskan suara dengan ihrom dantalbiyah. (HR. Tirmidzi).

9. Diantara mereka ada yang menambah kata-kata mereka sendiri dalam bertalbiyah selain talbiyah yang diucapkan oleh Rasulullah saw dan beliau tidak melarangnya tetapi Nabi saw sendiri tetap dengan lafal talbiyah beliau sendiri di atas.
Kata Jabir: Dan orang-orang bertlbiyah dengan yang mereka gunakan, lalu Rasulullah saw tidak menolak sesuatu dari yang mereka ucapkan. Tapi Rasulullah saw sendiri tetap pada talbiyah beliau.
10. Pada waktu itu kebanyakan kaum muslimin hanya berniat melakukan haji, karena belum mengenal umroh. Dan Nabi saw memberi kebebasan kepada mereka memilih, apakah mereka berihrom untuk haji bersama umroh (qiron), berihrom untuk haji saja (ifrod) atau berihrom untuk umroh saja (tamattu') pada saat memulai perjalanan ini.
Kata Jabir: Kami tadinya tidak berniat selain haji, kami tadinya belum mengenal umroh
Aisyah berkata: Kami keluar bersama Rasulullah saw lalu beliau bersabda: barangsiapa diantara kamu mau berihro untuk haji dan umroh, maka hendaklah dia kerjakan. Dan barangsiapa mau berihrom untuk haji maka hendaklah dia kerjakan. Dan barangsiapa mau berihrom untuk umroh maka hendaklah dia kerjakan (HR: Bukhari dan Muslim).
11. Setiba mereka di Sarif, suatu tempat tidak jauh dari Tan'im, Rasulullah menganjurkan bagi orang yang suka supaya orang yang belum membawa binatang hadyu menjadikan ihromnya hanya untuk umroh (tamattu'). Diantara mereka ada yang segera menurut dan ada yang tidak.
Kata Aisyah: Hingga kami singgah di Sarif, lalu beliau keluar kepada para sahabat beliau lalu bersabda: Barangsiapa diantara kamu tidak ada hadyu bersamanya, lalu dia suka menjadikan (ihrom)nya untuk umroh maka hendaklah ia perbuat. Dan barangsiapa telah ada hadyu bersamanya maka jangan. Lalu ada yang mengambilnya dan ada yang meninggalkannya diantara mereka yang tidak ada ada hadyu bersamanya (HR: Bukhari dan Muslim)
12. Sementara itu mereka terus mengulang-ulang talbiyah dan baru berhenti bertalbiyah mereka yang berihrom umroh pada saat menjamah Hajar Aswad pada permulaan thawaf.
Dari Ibnu Abbas, katanya: Rasulullah saw bersabda: Orang berumroh bertalbiyah sampai ia menjamah Hajar Aswad. (HR: Abu Daud).
13. Sesampai beliau di Mekah, beliau berwudhu sebelum melakukan thawaf.
DariAisyah: Sesungguhnya sesuatu yang pertama dimulai mengerjakannya oleh Nabi saw sewaktu sampai (di Mekah) adalah beliau berwudlu lalu thawaf. (HR: Bukhari dan Muslim).
14. Lalu Rasulullah saw masuk ke dalam Masjid Haram dari pintu Bani Syaibah atau Babus salam.
Dari Jabir katanya: Sesungguhnya Nabi saw memasuki Mekah di waktu Dhuha sudah tinggi dan membaringkan tunggangan beliau di sisi pintu Bani Syaibah dan masuk masjid. (HR. Muslim).
15. Ada diriwayatkan bahwa saat Nabi melihat Ka'bah mengucap: Ya Allah, tambahilah Bait ini kehormatan, keagungan, kemuliaan dan kewibawaan. Dan tambahilah orang yang menghormatinya dan memuliakannya, yaitu orang yang mendatanginya untuk haji dan umroh kehormatan, keagungan, kemuliaan dan kebajikan.
Bacaan Rasulullah saw ini diriwayatkan oleh Imam Syafi'i dalam Musnadnya dan juga oleh lainnya. Menurut beberapa ahli hadits semua sanad hadits itu lemah. Tetapi membaca do'a saat melihat ka'bah ini dilakukan oleh para sahabat, antara lain oleh Umar bin Khatab. Beliau berdo'a dengan: Ya Allah, Engkaulah Maha Keselatan dan dariMulah keselamatan. Maka hidupilah kami, wahai Rabb kami dengan keselamatan (diriwayatkan oleh Sa'id bin Mashur, hakim dan Baihaqi).
16. Pada saat itu Rasulullah saw beridlthiba', yaitu beliau letakkan bagian tengah kemul beliau di bawah ketiak kanan dan kedua ujungnya disampirkan di atas pundak kiri sehingga pundak kanan terbuka dan pundak kiri tertutup. Dari Ya'la bin Umayah, katanya: Sesungguhnya Rasulullah saw setelah sampai di Mekah thawaf di baitullah dalam keadaan beridlthiba' dengan kemul kepunyaan beliau buatan Hadramaut (HR. Ahmad).
17. Lalu beliau menuju ke arah Hajar Aswad dan menghadap ke arahnya, lalu mengusapnya, kemudian menghadap ke kanan. Ibnu Umar berkata: Rasulullah menghadap Hajar Aswad lalu menjamahnya (HR. Hakim)
Kata Jabir: Sehingga apabila kami telah sampai di Baitullah, beliau mengusap sudut (Hajar Aswad)) dan membaca: Bismillah wa Allahu akbar
Ibnu Abbas berkata: Rasulullah saw telah berthawaf di atas seekor onta. Setiap kali beliau sampai di sudut (Hajar Aswad) beliau berisyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada di tangan beliau dan membaca takbir (HR. Bukhari).
Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya apabila beliau telah mengusap Hajar Aswad mengucap: Bismillah wa Allahu akbar. (HR. Baihaqi)
Dari Jabir: Sesungguhnya apabila Rasulullah saw telah sampai di Mekah beliau datang ke Hajar Aswad, lalu menjamahnya. Kemudian berjalan ke arah kanan, beliau lalu berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran (HR: Muslim dan Nasai).
18. Lalu mengitari ka'bah, tiga kali putaran dengan lari-lari kecil dan empat kali putaran dengan berjalan biasa.
Kata Jabir: Lalu beliau berlari-lari keciltiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran.
19. Sesampainya beliau di rukun Yamani (sudut sebelum sudut Hajar Aswad) beliau mengusapnya. Lalu membaca di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad: "Ya Tuhan kami, berilah kami yang baik di dunia dan yang baik di akhirat, dan peliharakanlah kami dari siksa neraka."
20. Selesai thawaf, beliau ke belakang Maqom Ibrahim seraya membaca bacaan yang artinya:" Dan jadikanlah Maqom Ibrahim mejadi tempat sholat". Sehingga Maqom Ibrohim berada di antara beliau dan Ka'bah.
Dari Ibnu Umar, katanya: Sesungguhnya adalah Rasulullah saw menjamah/mengusap Rukun Yamani dan Hajar Aswad pada setiap putaran thawaf beliau. Dan tidak mengusap dua sudut yang sesudah Hajar Aswad. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kata Jabir: Kemudian beliau mcnerobos ke Maqom lbrohim a.s. lalu membaca: Wattakdidzuu mim Maqomi Ibrohima Musholla, lalu dibuatnya Maqom Ibrohim berada diantara beliau dan Baitullah.
21. Beliau melakukan salat dua rakaat. Pada rakaat pertama, sesudah Al-Fatihah membaca: Qulyaa Ayyuhal kaafiruun.dan pada rakaat kedua memb'aca: QulhuwAllahu Ahad sesudah membaca Al Fatihah.
Kata Jabir: Dan adalah beliau membaca dalam dua rakaat itu Qul Huwallahu Ahad dan Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun.
22. Selesai salat beliau pergi minum air Zamzam dan menyiramkannya ke atas kepala beliau, lalu kembali ke Hajar Aswad lalu mengusapnya.
Ada riwayat: Kemudian beliau pergi ke sumur Zamzam lalu meminum dan airnya dan menyiramkannya dimatas kepala beliau. ( H.R. Ahmad)
Kata Jabir: Kemudian beliau kembali ke sudut (Hajar Aswad)
23. Kemudian beliau keluar dari pintu Shofa menuju Shofa. Setelah dekat ke Shofa beliau mengucap bacaan yang artinya: Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah termasuk tanda-tanda (peribadatan kepada) Allah. Aku memulai dari apa yang Allah memulai darinya. Kata Jabir: Kemudian beliau keluar dari pintu (Shofa) menuju Shofa. Maka setelah dekat dan Shofa beliau membaca: Innas Shofaa walMarwata min Sya'aairilllah. Abda-u bi maa bada'allahu bih.
24. Lalu memulai Sa'i dari Shofa, lalu naik ke atas Shofa, lalu menghadap kiblat, mengangkat dua tangan dan mengucap: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Tiada sekutu bagiNya. KepunyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian. Dan Ia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah sendiri. Ia lestarikan janji-Nya. Dan Ia tolong hambaNya. Dan Ia hancurkan sendiri tentara-tentara (musuh).
Bacaan tersebut diulangnya tiga kali dan berdoa di sela-sela doa di atas.
Kata Jabir: Lalu beliau memulai dengan Shofa lalu naik ke atasnya sampai melihal Baitullah lalu menghadap ke Baitullah, lalu membaca tauhid dan takbir dan mengucap: Laa Ilaaha Illallahu Wahdah, Laa Syariika lah, Lahul Mulku wa Lahul Hamdu, Wa Huwa 'alaa Kulli Syaiin Qodiir Laa Ilaaha Illallahu Wahdah, Anjaza Wa'dah, Wa Nashoro Abdah, Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah. Lalu berdoa diantara itu. Beliau mengucapkun seperti itu tiga kali.
25. Lalu beliau turun dari Shofa dan berjalan ke arah Marwah. Setelah sampai ke tengah-tengah lembah beliau berlari-lari kecil sampai ke tempat tanjakan ke Marwah, lalu berjalan biasa. Dan sesampai di atas Marwah beliau menghadap ke kiblat, mengangkat kedua tangan dan bertakbir serta berdoa seperti yang telah dilakukannya di Shofa.
Kata Jabir: Kemudian beliau turun ke Marwah, sehingga apabila dua kaki beliau telah berada di tengah-tengah lembah, beliau berlari-lari kecil. sampai apabila kami telah naik (tanjakan) beliau berjalan biasa sampai datang ke Marwah. Lalu beliau berbuat di atas Marwah seperti yang beliau perbuat di atas Shofa.
26. Kemudian dari Marwah kembali ke Sofa, dan diulang-ulang sampai cukup tujuh kali jalan.
27. Selesai Sa'i Nabi saw. menyuruh orang-orang yang belum membawa hadyu supaya bertahallul. Bahkan bagi orang yang tadinya berihrom untuk haji atau untuk haji dan umroh, tapi belum membawa hadyu diperintah agar mengubah hajinya menjadi umroh. Nabi saw. mengatakan, bahwa beliau senang seandainya tadinya tidak membawa hadyu lalu bertahallul saat itu.
Kata Jabir: Sehingga apabila telah berada di akhir putaran di atas Marwah, beliau bersabda: Seandainya aku bisa mengedepankan urusanku yang telah aku lakukun di belakang, aku tidak membawa hadyu dan aku membuatnya menjadi Umroh. Maka barang siapa di antara kamu tidak ada hadyu bersamanya maka hendaklah ia bertahullul dan menjadikannya Umroh.
28. Maka semua orang bertahallul selain Rasulullah saw. dan beberapa orang yang telah membawa hadyu, karena Nabi saw. sendiri bersama Ali bin Abi Thalib membawa 100 ekor unta.
Kata Jabir: Maka adalah kumpulan unta hadyu yang dibawa Ali dari Yaman dan yang dibawa oleh Nabi saw 100 ekor. Jabir berkata: Maka orang-orang bertahallul semuanya, kecuali Nabi saw. dan orang yang membawa hadyu.
PERHATIAN: Tentang haji tamattu' ini, seperti telah diterangkan dalam sifat haji Rasulullah saw. di atas, dapat kita beri catatan sebagai bcrikut: Pada permulam ihrom di Bir Ali, nabi saw. membiarkan orang memilih antara qiron, ifrod dan tamattu'. Pada waktu sampai di Sarif, Nabi saw. menganjurkan bagi yang mau, supaya orang yang tidak membawa hadyu membuat ihromnya untuk Umroh, yaitu bertamattu', lihat no 11. Tapi setelah selesai Sai, Nabi saw. memerintahkan, tidak lagi menganjurkan, agar orang yang tidak membawa hadyu bertahallul. Artinya ihromnya untuk Umroh, jadi bertamattu', seperti keterangan no.25 di atas. Perintah Nabi saw. itu bukan sekedar berarti sunat, tapi wajib. Karena Rasulullah saw. marah sebab adanya sementara orang yang tidak segera mematuhi perintah tersebut.
Dari Barraa bin , Azib, katanya: Rasulullah saw. dan para sahabat beliau keluar katanya lalu kami berihrom untuk haji. Maka setelah kami sampai di Mekah beliau bersabda: Buatlah hajimu menjadi umroh. Kata Jabir. Lalu orang-orang bertanya: "Rasulullah, kami telah berihram untuk haji, bagaimana kami membuatnya menjadi umroh ?" Sabda beliau: Lihatlah, apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah! Lalu mereka membantah maka beliaupun marah. Kcmudian beliau pergi masuk ke tempat Aisyah dalam keadaan marah. Lalu Aisyah melihat kemarahan di wajah beliuu, maka Aisyah bertanya: Siapakah yang membuat tuan marah, semoga Allah membuatnya marah ? Beliau menjawab: Bagaimana aku tidak marah, aku memcrintahkan suatu urusan lalu aku tidak segera diikuti. (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).
lbnul Qoyyim membuat kesimpulan mengenai hal tcrscbut, katanya: Sesungguhnya Nabi saw. membiarkan mereka memilih antara tiga macam haji pada waktu memulai ihrom, lalu menganjurkan mereka mengubah haji dan qiron menjadi umroh bagi yang tidak membawa hadyu pada waktu dekat ke Mekah, kemudian memastikan demikian kepada yang tidak membawa hadyu pada waktu di Marwah. (ZaadulMa'od Ih. 197)
Dari ketcrangan-keterangan di atas kita kctahui, bahwa ketentuan yang final hagi orang yang mcnunaikan haji dari luar tanah haram adalah, apabila mcreka mcmbawa scrta hinatang hadyu harus qiron, dan hagi yang tidak mcmhawa hadyu harus tamattu'. Dan inilah yang terbcsar di antara jamaah haji saat ini.
29. Setelah itu bagi yang sudah bertahalluI, boleh memakai pakaian biasa, memakai wewangian mencampuri isteri dan sebagainya. Adapun yang belum bertahallul, karena telah membawa hadyu, maka tetap dalam keadaan ihrom dan mengulang-ulang talbiyah sampai nanti pada hari Nahar.
30. Pada hari Tarwiyah, yaitu hari ke 5 Dzul-Hijjah, mereka berangkat ke Mina, dan mereka yang sebelumnya telah bertahallul memulai ihrom untuk haji dari tempat tinggal mereka di Mekah.
Kata Jabir:Setelah hari Tarwiyah mereka menuju Mlna . dan berihrom untuk haji.
31. Di Mina mereka bermalam, salat Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya dan Subuh, dan di pagi hari tanggal 9 itu, baru meninggalkan Mina setelah matahari terbit.
Kata Jabir: Dan Resulullah saw. menunggang (unta ke Mina) lalu di Mina salat Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya dan Subuh, lalu tinggal sebentar sempai matahari terbit.
32. Kemudian Rasulullah saw. berangkat ke Arofah, tapi tidak langsung ke tempat wukuf. Beliau singgah di Namiroh (di luar Arofah) yang di situ telah dipasang kemah untuk beliau. Dan beliau tetap di situ sampai matahari tergelincir ke arah barat.
Kata Jabir: Lalu Rasulullah berjalan, lalu melintas sampai tiba di Arofah, maka beliau dapati kemah untuk beliau telah dipasang di Namiroh, lalu beliau singgah di situ.
33. Dalam perjalanan dari Mina ke Namiroh itu, kaum muslimin ada yang membaca talbiyah dan ada yang membaca takbir seperti takbir pada hari raya. Oleh Nabi mereka tidak ada yang ditegor.
Muhammad bin Abi Bakr bin Auf berkata: Saya beranya kepada Anas sewaktu kami berdua berangkat dari Mina ke Arofah tentang talbiyah: Bagaimana kamu berbuat bersama Nabi saw.?Dia berkata. Ada oranig yang membaca talbiyah, maka ia tidak ditegor dan ada yang menbaca takbir maka ia pun tidak ditegur (H.R Bukhari dan Muslim)
34. Setelah masuk waktu Dhuhur beliau mengendarai unta ke tengah-tengah lembah 'Uronah (masih di luar Arofah), lalu berkhutbah, kemudiann beliau meny uruh Bilal adzan lalu salat Dhuhur, iqomat lagi lalu salat Asar, tenpa salat sunat.
Jabir berkata: Sehingga apabila matahari telah tergelincir ke arah barat, beliau menyuruh supaya Qoswa dipersiapkan, lalu beliau datang ketengah-tengah lembah lalu berkutbah kepada orang-orang kemudian adzan, iqomat, lalu salat Dhuhur, kemudian iqomat lalu salat Asar, dan tidak slat apapun diantara keduanya.
35. Seusai salat Asar, beliau menunggang unta ke tempat wukuf dan berwukuf dengan duduk di atas unta di atas batu-batu besar dilereng Jabal Rohmah, menghadap kiblat, berdoa sambil mengangkat kedua tangan. Dan terus wukuf di situ sampai matahari terbenam.
Kata jabir: Kemudian Rasulullah saw. menunggang sampai datang ke tempat wukuf, lalu meletakkan perut untanyanya ke batu-batu besar dan membuat tempat berkumpul para pejalan kaki di muka beliau dan menghadap kiblat. dan beliau tetap sampai matahari terbenam dan hilang kuning-kuning dan terbenam bundaran matahari.
36. Nabi saw. menerangkan, bahwa orang tidak harus wukuf di tempat beliau wukuf, tapi boleh wukuf disembarang tempat di padang Arofah.
Dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda: Aku wukuf disini, tapi seluruh padang Arofah adalah tempat wukuf. (H.R. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
37. Pada waktu wukuf Nabi saw. tidak berpuasa walaupun berpuasa di hari Arofah sangat dianjurkan bagi orang yang sedang tidak wukuf.
Dari Ummul Fadl, katanya: Sesungguhnya mereka meragukan puasa Rasulullah saw. di hari Arofah. Lalu aku mengirimkan susu kepada beliau, lalu beliau meminumnya sedang beliau berkutbah kepada orang-orang . (H.R. Bukhari dan Muslim).
Kata Abu Qatadah: Rasulullah bersabda: Puasa hari Arofah dapat menghapus (dosa) dua tahun, yang lewat dan yang akan datang. (H:R: Jamah selain Bukhari dan Tirmidzi)
38. Pada waktu wukuf itu pula ada seorang laki-laki yang jatuh dari ontanya dan diseruduknya pula sehingga meninggal dunia. Lalu Rasulullah saw. menyuruh agar orang itu dimandikan dan dikafani, tapi tidak boleh diberi wewangian dan tidak boleh ditutup kepalanya.
Dari Ibnu Abbas, Nabi saw. bersabda: Mandikanlah dia dengan air dan daun dara, dan kafanilah dia dalam dua kainnya, dan jangan kamu luluti dia dengan wewangian dan jangan kerudungi kepalanya, karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah (HR. Jamaah).
39. Setelah matahari terbenam benar, Rasulullah saw. meninggalkan Arofah menuju Muzdalifah dengan mengendari unta, dan menyuruh orang-orang berangkat dengan tenang.
Kata Jabir: Rasulullah saw. berangkat (ke Muzdalifah) dan ditariknya kekang si Qoshwa sampai kepalanya menyentuh ujung penghujung kendaraan beliau dan berisyarat dengan tangan kanan seraya berkata: Hai orang-orang, tenang, tenang!
40. Di tengah perjalanan beliau menyimpang ke celah perbukitan untuk buang hajat. Oleh Zaid bin Usamah beliau di tawari salat di tempat itu, tapi beliau menolah dan bersabda bahwa tempat itu salat itu adalah di Muzdalifah.
41. Setelah beliau tiba di Muzdalifah, salat Maghrib dan Isya jama' akhir dengan satu adzan dan satu iqomat tanpa salat sunat di antara keduanya, lalu tidur sampai terbit fajar. Dan setelah jelas terbit fajar, lalu slat Subuh.
Kata Jabir: Sampai beliau tiba di Muzdalifah lalu salat Magrib dan Isya di sana dengan satu adzan dan dua iqomat dan tidak salat apapun dintara keduanya. Kemudian Rasulullah saw. berbaring sampai terbit fajar. Dan salat Subuh setelah jelas waktu Subuh dengan satu adzan dan satu iqomat.
42. Seusai salat Subuh lalu berngkat ke Masy'aril Harom. Di sana beliau berdiri menghadap kiblat, berdoa membaca takbir dan tahlil. Demikian terus menerus sampai hari menjadi terang.
Kata Jabir: Kemudian beliau menunggang Qosswaa sehingga sampai di Masy'aril Harom, lalu menhadap kiblat, lalu berdoa, membaca takbir, tahlil dan kalimat tauhid. maka beliau tetap berdiri sampai terang benar.
43. Kemudian berangkat meninggalkan Masy'aril Harom sebelum terbnit matahari, Nabi saw. memperingatkan orang-orang agar berangkat dengan tenang sampai ke lembah Muhassir. Di sana Nabi saw. menyuruh orang-orang memungut kerikil-kerikil untuk pelontar jumroh. Di Muhassir itu beliau mempercepat jalan dan melewati jalan tengah yang keluar ke arah Jumrutul 'Aqobah.
Kata Jabir: Lalu beliau berangkat sebelum terbit matahari samapi tiba di tengah-tengah Muhassir, lalu beliau percepat jalan sedikit, lalu melewati jalan tengah yang keluar ke arah jumroh terbesar sampai tiba di jumroh yang disebelah pohon kayu.
44. Orang yang lemah oleh Rasulullah saw. diijinkan berangkat meninggalkan Muzdalifah di waktu malam. Artinya mereka tidak harus berada di Muzdalifah sampai terbit fajar.
45. Setiba di Jumbroh'Aqobah, sebelum matahari terbit beliau melontarnyanya dari arah tenggara sehingga kiblat berada di arah kiri dan Mina berada disebelah kanan beliau. Dilontarnya tujuh kali lontaran masing- masing dengan sebuah kerikil dengan disertai takbir pada setiap lontaran.
Kata Jabir: Lalu beliau melontarnya dengan tujuh kerikil, bertakbir beserta setiap kerikil dari padanya, sebesar kerikil lontaran, beliau melontar dari tengah-tengah lembah.
Selesai melontar membaca bacaan yang artinya: Ya Allah, jadikanlah dia haji yang mabrur dan menjadikan dosa terampuni. Pada saat melontar Jumbroh'Aqobah Nabi saw. mengakhiri talbiyah.
46. Selesai melontar Nabi saw. menyuruh orang-orang memperhatikan haji beliau dan menjadikan anutan haji mereka. Kemudian beliau mendatangi tempat persinggahan beliau di Mina.
Abu Zubair mendengar Jabir berkata: Aku melihat Nabi saw. di atas kendaran beliau pada hari Nahar melontar dan bersabda: Ambillah (cara) hajimu (dari aku). Karena sesungguhnya aku tidak tahu barangkali aku tidak berhaji lagi setelah hajiku ini (HR. Muslim).
Dari Anas, beliau mengatakan sesungguhnya Rasulullah saw. datang di Mina lalu datang ke jumroh, lalu melontarnya, lalu mendatangi tempat persinggahannya di Mina (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).
47. Kemudian Nabi saw. berkutbah, menjelaskan hal-hal penting dan menjawab pertanyaan-pertanyaa tentang orang-orang melakukan amalan-amalan haji di hari Nahar itu yang tidak seperti urutan amalan- amalan Nabi saw. yang kemudian dijawab oleh beliau: Tidak mengapa!
Dari Abdullah bin Amr bin ash: Sesungguhnya beliau menyaksikan Rasulullah saw. berkutbah di hari Nahar. Lalu berdiri seorang laki- laki kepadanya lalu berkata: Tadinya saya menyangka bahwa begini adalah sebelum begini. Lalu datang yang lain berkata: Tadinya aku menyangka bahwa begini adalah sebelum begini, lalu aku bercukur sebelum menyembelih, aku menyembelih sebelum melontar, dan sebagainya: Lalu Nabi saw. menjawab: Kerjakanlah, tidak mengapa untuk semua itu. maka hari itu beliau tidak ditanya sesuatu kecuali menjawab: Kerjakan tidak mengapa (HR. Muslim).
48. Lalu beliau menuju ke tempat penyembelihan dan disembelihnya 63 ekor unta dan menyerahkan penyembelihan yang 37 ekor selebihnya kepada Ali. Dari 100 ekor unta itu adalah hadyu beliau bersama Ali. Lalu beliau menyuruh mengambil sepotong daging dari setiap unta untuk dimasak, yang kemudian dimakannya dan diminumnya kaldunya bersama Ali.
Kata Jabir: Kemudian beliau menyingkir ke tempat penyembelihan lalu menyembelih 63 ekor unta dengan tangannya lalu memberikan kepada Ali selebihnya. Lalu beliau menyuruh mengambil sepotong daging dari setiap unta lalu ditaruh dalam sebuah kuali lalu dimasak, lalu keduanya makan dari dagingnya dan meminum dari kaldunya.
49. Nabi mengatakan, bahwa orang tidak harus menyembelih hadyu di tempat beliau menyembelih, tapi boleh menyembelih dimanapun di daerah Mina dan Mekah.
50. Lalu beliau memanggil tukang cukur untuk mencukur kepala beliau, dimulai dari separuh sebelah kanan lalu yang separoh sebelah kiri dan rambut beliau dibagi-bagikan.
51. Setelah itu Aisyah mengolesi beliau dengan wewangian.
52. Lalu Rasulullah saw. pergi ke Mekah melakukan tawaf Ifadloh, lalu salat Dhuhur di Mekah. Dalam tawaf Ifadloh itu Nabi saw. tidak berdltiba' dan tidak berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama. Dan selesainya tawaf Ifadloh tersebut menjadi halal semua yang tadinya terlarang karena ihrom, termasuk bercampur dengan istri.
Catatan: Tidak ada riwayat yang menerangkan demikian, bahkan diriwayatkan saat Nabi saw. tawaf Ifadloh itu dengan menunggang unta. Riwayat tentang Idltiba' dan lari-lari kecil itu hanya pada tawaf pertama datang.
53.Setelah itu Nabi saw. pergi ke sumur Zamzam meminum airnya.
Kata Jabir: Lalu beliau mendatangi Bani Abdul Muthallib, mereka memberi minum (orang-orang haji) di atas sumur Zamzam, lalu bersabda: Tariklah (timba untukku) wahai orang-orang Bani Abdul Muthallib. Seandainya tidak karena (kuatir) orang-orang mengalahkan kamu atas tugasmu memberi minum, tentu aku menarik timba sendiri bersama kamu. Lalu mereka memberinya setimba air lalu beliau minum.
54. Sesudah tawaf Ifadloh, Nabi saw. dan sahabat-sahabat beliau yang melakukan haji Qiron tidak melakukan sa'i lagi, cukup dengan sa'i yang dahulu dikerjakan sesudah tawaf qudum. Adapun orang-orang yang melakukan haji tamattu' - dan ini yang terbanyak melakukan sa'i sesudah tawaf Ifadloh itu.
Abu Zubair mendengar Jabir berkata: Nabi saw. dan sahabat-sahabat beliau tidak sa'i antara Shofa dan marwah keculai sekali sa'i. (HR. Muslim).
Ibnu Abbas ditanya tentang haji tamattu', lalu jawabnya: Orang-orang Muhajirin dan Ansor dan istri-istri Nabi saw. berihrom dihaji Wada' lalu kamipun berihhrom. Setelah kami sampai di Mekah, Rasulullah saw. bersabda: "Ubahlah ihrommu untuk haji menjadi untuk umroh, selain yang telah membawa hadyu". Kamipun tawaf di Baitullah dan sa'i di Shofa dan Marwah. Dan kamipun menggauli istri dan memakai pakaian biasa. Dan beliau bersabda: "Barangsiapa telah emmbawa hadyu maka dia tidak boleh bertahallul (sampai hadyu itu tiba di waktu penyembelihannya (di hari Nahar)". kemudian beliau menyuruh kami di sore hari Tarwiyah supaya berihrom untuk haji. Maka apabila kami telah selesai dari dari amalan-amalan haji kami datang lalu tawaf Ifadloh dan sa'i dari Shofa dan Marwah. Maka telah sempurna haji kami dan kami wajib membayar hadyu (HR. Bukhari).
55. Kemudian beliau kembali ke Mina dan bermalam di sama pada malam hari-hari Tasyriq dan melontar ketiga-tiga jumroh disiang harinya setelah masuk waktu Dhuhur.
56. Rasulullah saw. memberi ijin kepada Abbas dan penggembala-penggembala unta untuk tidak bermalam di Mina di malam hari-hari Tasyriq itu.
57. Pada hari Tasyriq kedua, Rasulullah saw. berkutbah lagi.
Sarraa binti Nabhan berkata: Aku dengar Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kamu hari apa hari ini? kata Barraa: Yitu yang kamu namakan Yaumurrus-us- Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu, beliau bersabda: Ini adalah pertengahan hari-hari Tasyriq (HR. Abu Dawud).
58. Pada hari Tasyriq kedua itu orang boleh meninggalkan Mina, kalau mau, setelah melontar jumroh. Adapun Rasulullah saw. baru meninggalkan Mina di hari Tasyriq ketiga setelah melempar jumroh, menuju Muhassob (di Mekah).
59. Rasulullah saw. salat Dhuhur, Asar, Maghrib dan Isya hari itu di Muhassob, atau Abthoh, lalu tidur sebentar. Beliau singgah di Abthoh itu supaya lebih mudah waktu keluar.
Anas bin Malik mengatakan: Sesungguhnya Nabi saw. salat Dhuhur, Asar, Maghrib dan Isya dan tidur sebentar di Muhassob, kemudian naik unta ke Baitullah lalu tawaf di situ (HR. Bukhari).
Dari Aisyah, beliau berkata: Ia hanyalah tempat persinggahan yang disingahi Nabi saw. supaya lebih lapang untuk keluar beliau, yaitu Al Abthoh (HR. Bukhari).
60. Di malam Muhassob itu Nabi saw. diberi tahu bahwa Shofiyah, istri beliau sedang haid. Beliau kuatir itu akan menjadi penahan keberangkatan ke Madinah. Tapi setelah mengetahui bahwa haid Shofiyah datang sesudah tawaf Ifadloh beliaupun menyuruh berangkat.
Dari Aisyah katanya: Sesungguhnya Shofiyah binti Huyai, istri Nabi saw. berhaid lalu diberitahukan itu kepada Rasulullah saw. lalu beliau bersabda: Apakah dia menjadi penahan kita? Mereka berkata: Sesungguhnya dia telah melakukan tawaf Ifadloh. Beliau bersabda: tidak, kalau begitu (HR. Bukhari).
61. Pada malam itu Aisyah juga mengadukan ganjalan hatinya karena dahulu tidaj tawaf waktu sampai di Mekah karena sedang haid. Lalu Rasulullah saw. menyuruh Abdur Rahman, saudara Aisyah untuk mengantarnya berumroh dari Tan'im.
Dari Jabir katanya: Kami telah berketatapan berihrom bersama Rasulullah saw. untuk haji saja, dan Aisyah r.a. berketetapan untuk umroh. Sampai apabilakami telah berada di Sarif dia haid... Kemudian kami berihrom di hari Tarwiyah, lalu Rasulullah saw. masuk kepada Aisyah beliau menemukannya sedang menangis. Lalu beliau bertanya: Apa urusanmu? Jawab Aisyah: Urusanku ialah aku telah haid, orang-orang bertahallul dan aku belum bertahallul dan aku belum tawaf padahal orang-orang sudah akan pergi melakukan haji sekarang. Lalu Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya ini adalah hal yang telah ditetapkan Allah atas puteri-puteri Adam. Maka mandilah dan berihromlah untuk haji. Lalu ia melakukannya dan wukuf di tempat-tempat wukuf. Sehingga apabila telah suci ia tawaf di ka'bah dan sa'i di Shofa dan Marwah. Kemudian beliau bersabda: Engkau telah bertahallul dari haji dan umrohnya semuanya. lalu dia berkata: Ya Rasulullah aku merasakan hatiku bahwa aku tidak tawaf di baitullah sampai aku haji. Lalu beliau bersabda: Pergilah dengannya hai Abdur Rohman, lalu umrohkan dia dari Tan'im. Dan ini terjadi pada malam Muhassob (HR. Muslim).
62. Rasulullah saw. kemudian pergi ke Baitullah lalu tawaf Wada' . Dalam tawaf Wada' ini beliau tidak beridlthiba' dan tidak lari-lari kecil. Dan setelah salah Subuh beliau meninggalkan Mekah menuju Madinah.
63. Sesampainya di Rauhaa beliau bertemu dengan rombongan kaum muslimin yang di dalamnya ada seorang wanita yang membawa anak kecil dan bertanya kepada Nabi saw., apakah anaknya dapat memperoleh haji. Beliau menjawab: Dapat, dan ibu yang membawanya memperoleh pahala.
Dari Ibnu Abbas, katanya: Nabi saw. bertemu dengan rombongan penunggang unta di Rauhaa lalu bertanya: Siapakah anda? Beliau menjawab: Rasulullah. Lalu seorang perempuan mengangkat seorang anak kecil dan bertanya: Apakah ini bisa memperoleh haji? Beliau menjawab: Ya dan engkau mendapat pahala. (HR. Muslim).
64. Dalam perjalan pulang ke Madinah itu Nabi saw.setiap kali melewati tempat tinggi mengucap Allahu Akbar 3X lalu mengucap bacaan yang artinya: Tiada tuhan selain Allah sendiri, tidak punya sekutu, kepunyaanNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu: Kami kembali, bertaubat, beribadat, bersujud dan memuji kepada Tuhan kami. Allah menepati janjiNya, menolong hambaNya dan menhancurkan tentara-tentara (musuh) sendirian.
Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya Rasulullah saw. apabila pulang dari pertempuran, haji atau umroh bertakbir setiap berada di atas tanah tinggi tiga kali takbir lalu mengucap: Laa Ilaaha Illalla Wahdah, Laa Syariika lah, Lahul Mulku wa Lahul Hamd, wa Huwa 'alaa kulli Syai-in Qodiir. Aayibuun, Taa-ibuun, 'Aabiduun, Saajiduun, Li Rabbina haamiduun. Shodaqollaahu Wa'dah, wa Nashoro 'Abdah, wa Hazamal Ahzaaba Wahdah (HR. Bukhari).

HUKUM AMALAN-AMALAN HAJI dan UMROH

1. Rasulullah saw. tidak pernah menerangkan mana-mana di antara amalan-amalan haji dan umroh beliau yang termasuk amalan-amalan fardlu, mana yang termasuk amalan wajib dan mana yang termasuk amalan sunat. Tapi Rasulullah saw. menunaikan semua amalan-amalan itu pada haji wada' lalu pada hari Nahar di Mina beliau bersabda: Ambillah cara mengerjakan nusuk-nusukmu dari aku. Artinya dalam menunaikan umroh dan haji, kaum muslimin diperintahkan mencontoh cara beliau menunaikannya, seperti dalam hal salat beliau memerintahkan :Salatlah kamu seperti kamu melihat aku salat.
2. Kemudian para ulama madzhab fikih yang mengelompok-kelompokkan amalan- amalan itu kedalam:
-Kelompok amalan-amalan fardlu, artinya amalan yang kalau tidak dikerjakan, maka tidak sah haji atau umroh itu.
-Kelompok amalan-amalan wajib, artinya amalan yang harus dikerjakan, tapi kalau tidak dikerjakan haji atau umroh itu tetap sah, tapi harus membayar dam atau denda yang lain.
-Kelompok amalan-amalan sunat, artinya amalan-amalan yang dianjurkan untuk diamalkan, tapi kalau tidak diamalkan haji atau umrohnya tetap sah dan tidak harus membayar dam atau denda yang lain.
3. Sebagaimana dalam hal-hal lain, dalam amalan-amalan haji dan umroh inipun para ulama madzhab fiqh tidak selalu sepakat dalam satu-satu amalan, apakah termasuk fardlu, wajib atau sunat dengan alasan musing-masing.
4. Bagi kita, untuk lebih selamatnya, kita kerjakan sebisa-bisanya apa-apa yang telah dikerjakan oleh Raslullah saw. dalam berhaji dan berumroh. Dan dimana perlu kita terima ruhshoh yang diberikan oleh beliau, dan kita serahkan kepada Allah swt. apa yang tidak mampu kita kerjakan dengan tepat seperti yang dicontohkan oleh Raslullah saw. dengan selalu memohon pertolongan serta ampunan dariNya.
Firman Allah swt.: Maka berbaktilah kepada Allah sebisa-bisamu. (At Taghobun 16)
Dan firmanNya lagi: Allah tidak memaksakan kepada suatu jiwa selain semampunya. (Al Baqoroh 286)
FirmanNya lagi: Tidak dipaksa suatu jiwa selain semampunya. (AIBaqoroh 233)
FirmanNya lagi: Kami tidak memaksakan kepada sesuatu jiwa selain semampunya. (An An'am 152 - Al A'rof 42 - Al Mukminun 62)
Dan sabda Rasulullah saw.: Apa yang aku perintahkan kepadamu mengerjakannya, maka kerjakanlah semampumu. (H.R. Bukhari)
5. Di bawah ini disajikan daftar amalan-amalan haji dan umroh dan hukumnya menurut para ulama madzhab-madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali, yang dikutip dari kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuh.
6. Selain pendapat para ulama madzhab-madzhab di atas, masih ada lagi pendapat dari ulama lain yang terlalu banyak untuk disebutkan dalam buku yang ringkas ini.

Hukum Haji
Hanafi: Fardlu, seketika
Maliki: Fardlu, seketika
Syafei: Fardlu, tidak seketika
Hambali: Fardlu, seketika

Hukum Umroh
Hanafi: syarat
Maliki: syarat
Syafei: fardlu, tidak seketika
Hambali: fardlu, seketika

Ihrom haji dengan niat haji
Hanafi: syarat
Maliki: rukun
Syafei: rukun
Hambali: rukun
Ihrom Umroh dengan niat umroh.
Hanafi: syarat
Maliki: rukun
Syafei: rukun
Hambali: rukun

Ihrom dari miqot
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: wajib
Hambali: wajib

Berbarengnya ihrom dengan talbiyah.
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Mandi untuk ihrom
Hanafi: sunnah
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Memakai wewangian untuk ihrom.
Hanafi: sunnah
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Membaca talbiyah
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Tawaf qudum untuk yang berifrod dan qiron.
Hanafi: sunnah
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Niat Thawaf
Hanafi: sunnah
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Memulai thawaf dari Hajar Aswad.
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Menjadikan Ka’ba di sebelah kiri orang yang thawaf.
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Jalan kaki waktu thawaf bagi yang bisa.
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Suci dari hadats waktu thawaf
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Suci badan, pakaian dan tempat
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Keberadaan tawaf dalam masjid
Hanafi: sunnah
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Tujuh kali putaran dalam thawaf
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Kesinambungan antara putaran-putaran thowaf.
Hanafi: sunnah
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: wajib
Menutup aurot dalam thawaf.
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Salat dua rakaat sesudah thawaf
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Thawaf umrah
Hanafi: rukun
Maliki: rukun
Syafei: rukun
Hambali: rukun

Sa’i antara Shofa dan Marwah
Hanafi: wajib
Maliki: rukun
Syafei: rukun
Hambali: rukun
Sa’i dikerjakan sesudah thawaf
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: rukun
Hambali: rukun
Niat sa’i
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Memulai sa’i dari Shofa dan mengakhirinya di Marwah.
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Jalan kaki waktu sa’i bagi yang bisa.
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Tujuh kali jalan dalam sa’i
Hanafi: wajib
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Kesinambungan dalam putaran-putaran sa’i
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: rukun
Hambali: wajib
Mencukur atau memendekkan rambut kepala dalam umrah.
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: rukun
Hambali: rukun

Mabit di Mina pada malam hari Arafah Wukuf di Arafah
Hanafi: sunnah
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Wukuf sampai sesudah maghrib kalau wukuf di siang hari
Hanafi: rukun
Maliki: rukun
Syafei: rukun
Hambali: rukun

Berangkat dari Arofah bersama Imam atau wakilnya
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Jama’ ta’khir antara Maghrib dan Isya
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah

Mabit di Muzdalifah
Hanafi: wajib, walau sedetik
Maliki: wajib, cukup sekedar istirahat unta, salat, makan dan minum
Syafei: wajib, cukup sedetik sesudah tengah malam
Hambali: wajib, sampai sesudah tengah malam

Wukuf di Masy’aril haram sesudah shalat subuh sampai terang
Hanafi: sunnah
Maliki: sunnah
Syafei: sunnah
Hambali: sunnah
Melontar Jumroh Aqobah di hari Tasyriq.
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: wajib
Hambali: wajib
Mencukur atau memotong rambut kepala dalam haji
Hanafi: wajib
Maliki: wajib
Syafei: wajib/rukun
Hambali: wajib






Tidak ada komentar:

Posting Komentar