Sabtu, 24 Maret 2012

Majaz Dan Kinayah Dalam Al-Qur'an


Oleh: Nabil Abdurahman
 
A.    PENDAHULUAN

Al-Qur'an merupakan kalamullah yang diturunkan kepada umat manusia untuk di baca, difahami dan diamalkan apa-apa yang dikandungnya. Dan Rasul yang di pilih-Nya untuk menerima wahyu tersebut adalah Nabi Muhammad saw yang berasal dari bangsa Arab. Oleh karena itu, dengan kehendak-Nya, al-Qur'an di turunkan oleh-Nya kepadanya dengan bahasanya dan bangsanya, yaitu bahasa Arab, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ
Artinya: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya"[1].

Hal ini dimaksudkan agar Nabi Muhammad saw bisa melafalkannya dengan baik dan benar, mencerna dan memahaminya secara langsung, sehingga tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu menyampaikan wahyu kepada umatnya, bisa sampai kepada mereka dari berbagai seginya: lafadz, makna dan kandungannya, juga agar mereka sendiri tidak mengalami kesukaran dalam menerima, melafalkan, mencerna dan memahami apa yang di sampaikan olehnya kepada mereka dari ayat-ayat al-Qur'an tersebut.
Namun ketika bangsa Arab pada waktu itu sangat menyukai gaya bahasa yang tinggi dan indah, maka al-Qur'anpun di turunkan oleh-Nya dengan gaya bahasa yang lebih tinggi dan indah dari gaya bahasa yang berkembang pada saat itu yang tidak ada tandingannya agar menjadi perhatian mereka sekaligus melemahkan gaya bahasa mereka dihadapan gaya bahasa Allah (kalamullah) sehingga mereka tertarik dan terpengaruh olehnya, dan akhirnya mereka mengikuti apa yang di kandungnya.
Di samping itu al-Qur'an merupakan kalamullah yang tidak hanya membahas masalah-masalah dunia dan hal-hal yang dibatasi oleh ruang dan waktu semata (fisika), akan tetapi masalah-masalah ukhrawi dan hal-hal yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (metafisika) yang belum diketahui oleh oleh bangsa Arab pada waktu itu dan manusia secara umum. Untuk itu al-Qur'an memberikan jembatan rasio manusia yang terbatas dengan masalah-masalah ukhrawi dan hal-hal metafisik tersebut dengan gaya bahasanya yang tinggi dan indah.
Diantara ketinggian dan keindahan gaya bahasa al-Qur'an tersebut terletak pada ungkapan-ungkapan metaforik-simboliknya dan kiasan-kiasannya atau sindiran-sindirannya, atau yang populer di kalangan pemikir muslim disebut dengan majaz dan kinayah. Hal ini sebagaimana yang akan di bahas  di bawah ini.


B.     PEMBAHASAN

1.   Majaz
a.    Definisi Majaz
Majaz secara etimologis berasal dari kata bahasa Arab المجاز, bentuk masdar (infinitif) dari kata جاز. Orang arab mengatakan:  (جاز المسافر المكان جَوْزاً وجوازاً ومجاز) apabila seorang musafir telah melewati suatu tempat, dan mengatakan: ((جاز القول apabila perkataan seseorang diterima oleh orang lain, dan mengatakan: (جاز الْعَقْد) apabila seseorang telah melaksanakan akad dengan cara yang benar dan bersih[2].
Sedangkan secara terminologis para ulama telah banyak mendefinisikannya dengan beberapa ibarah atau perkataan, diantaranya[3]:
1)   Ibn Qutaibah mendefinisikannya sebagai bentuk gaya tutur, atau seni bertutur.
2)   Sibawayh mendefinisakannya dengan seni bertutur yang memungkinkan terjadinya perluasan makna.
3)   Al-Mubarrad mengatakan bahwa majaz merupakan seni bertutur dan berfungsi untuk mengalihkan makna dasar yang sebenarnya.
4)   Al-Qaadhy ‘Abd al-Jabbaar mengatakan bahwa majaz adalah peralihan makna dari makna dasar atau leksikal ke makna lainnya, yang lebih luas.
5)   Ibn Jinny dan Al-Jurjaany menempatkan majaz sebagai lawan dari haqiqat, dan makna haqiqat menurut Ibnu Jinny adalah makna dari setiap kata yang asli, sedangkan majaz adalah sebaliknya, yaitu setiap kata yang maknanya beralih kepada makna lainnya. Sedangkan menurut Al-Jurjaany haqiqah adalah sebuah kata yang mengacu kepada makna asal atau makna dasar, tanpa mengundang kemungkinan makna lain disebut, sedangkan majaz adalah peralihkan makna dasar ke makna lainnya, karena alasan tertentu, atau pelebaran medan makna dari makna dasarnya.
Adapun definisi majaz yang paling banyak dikemukakan oleh para ulama adalah[4]:

اللفظُ المستعملُ في غير ما وضعَ له في اصطلاحِ التخاطَب لعلاقةٍ مع قرينةٍ مانعةٍ من إرادة ِ المعنى الوضعيِّ

Yakni lafadz yang digunakan bukan pada asal peletakannya dalam istilah yang digunakan dalam perkataan, dikarenakan adanya 'alaqah (hubungan) beserta qarinah (alasan/petunjuk) yang menghalanginya dari penggunaan  makna dasarnya atau aslinya.
Maksud 'alaqah di dalam definisi tersebut adalah:

العلاقة هي المناسبةُ بين المعنَى الحقيقيِّ والمعنى المجازيِّ، قد تكونُ (المشابهةَ) بين المعنيينِ، وقد تكونُ غيرَها، فإذا كانتِ العلاقةُ (المشابهةَ) فالمجازُ (استعارةٌ)، وإلا فهو (مجازٌ مرسلٌ)

Yakni pertalian atau penyesuaian antara makna asli dan makna majaz (bukan asli), yang bisa berupa musyabahah (penyerupaan/kemiripan) atau selainnya, apabila pertalian antara keduanya tersebut musyabahah maka itu disebut majaz isti'arah dan apabila bukan (musyabahah) maka disebut majaz mursal.
Sedangkan qarinah maksudnya adalah:

القرينة هي المانعةُ من إرادة المعنى الحقيقيِّ، قد تكون لفظيةً، وقد تكونُ حاليةً

Yakni penghalang dari penggunaan makna hakiki atau asli, yang bisa berupa lafadz atau hal ihwal.
Contohnya pemakaian kata asad (singa) untuk seorang laki-laki yang kuat dan pemberani dalam kalimat رأيت أسداً يخطب على المنبر (saya melihat seorang pemberani sedang berkhutbah di atas mimbar), hal ini dikarenakan berkhutbah merupakan kekhususan yang hanya dimiliki manusia bukan hewan. Inilah qarinah yang mengaharuskan kita, untuk menerjemahkan kata asad ke dalam makna si pemberani. Jika dalam hal ini kita tidak memakaikan majaz maka makna kata akan hilang dan keluar dari tujuan yang dimaksud.
Contoh di dalam al-Qur'an diantaranya kataجناح  dalam surat al-isra ayat: 24

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

Artinya: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan"
Kata tersebut secara makna dasarnya biasanya digunakan untuk burung karena bermakna "sayap", namun di dalam ayat tersebut digunakan untuk orang tua sehingga maknanya pun di maknai secara majaz[5].

b.      Perbedaan Pendapat Mengenai Ada Tidaknya Majaz di dalam Al-Qur'an
Berkaitan dengan persoalan majaz, secara historis setidaknya ada tiga kelompok berbeda pandangan, yang memposisikan majaz sebagai lawan dari haqiqat, yaitu[6]:
Pertama, Mu’tazilah, yang secara dogmatis ajarannya banyak bersinggungan dengan majaz. Mereka menjadikan majaz sebagai senjata untuk memberikan interpretasi terhadap teks-teks yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.
Kedua, Dzahiriyah, kelompok yang menolak keberadaan majaz baik dalam bahasa maupun dalam al-Qur’an, dan sebagai konsekuensi mereka juga menolak adanya ta’wil (interpretasi). Pada intinya, mereka menentang dengan keras pemahaman terhadap teks yang melampaui bahasa.
Ketiga, Asy’ariyyah, yang mengakui adanya majaz dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Paling tidak mereka memposisikan diri secara moderat di antara dua kelompok tersebut di atas.
Perbedaan pendapat berkenaan dengan eksistensi majaz dalam al-Qur’an ini, disebabkan karena perbedaan analisis dan kesimpulan mengenai asal-usul bahasa. Kalangan Mu’tazilah berkeyakinan, bahwa bahasa semata-mata merupakan konvensi murni manusia. Sementara kalangan Dzahiriyah berkeyakinan, bahwa bahasa merupakan pemberian Tuhan (tawqify) yang diajarkan kepada Adam, dan setelah itu beralih kepada anak keturunannya. Berbeda dengan kelompok Asy’ariyyah, yang menyatakan bahasa merupakan kreativitas manusia, akan tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa Tuhan juga berperan dalam memberikan kemampuan kepada manusia[7].

c.       Macam-macam Majaz
Para ulama telah berbeda-beda dalam membagi majaz: ada yang membaginya kedalam: majaz al-ifrad, majaz at-tarkib, majaz al-'aqli, majaz an-naqs wa az-ziyaadah, seperti Abdurrahman As-Sudais; ada yang membaginya ke dalam: majaz al-mufrad, majaz at-tarkib, majaz fi al-isnad, majaz yang menitikberatkan pada perluasan segi bahasa tanpa kaidah tertentu, seperti 'Abdurrahman Al-Midaanii; ada juga yang membaginya ke dalam: majaz al-lugawi, majaz asy-syar'i, majaz dalam kebiasaan umum, majaz dalam kebiasaan khusus, ada juga yang membaginya ke dalam: majaz fi at-tarkiib dan majaz fi al-mufrad saja seperti As-Suyuthi dan Az-Zarkasyi[8].
Dari beberapa macam perbedaan dalam pembagian majaz tersebut, pemakalah lebih condong memilih pembagian majaz yang di ketengahkan oleh As-Suyuthi dan Az-Zarkasyi, karena hal itu lebih sesuai dengan pembahasan yang menitikberatkan kepada majaz di dalam al-Qur'an, dimana kedua ulama tersebut termasuk tokoh sentral dalam pembahasan ilmu al-Qur'an (ulum al-Qur'an), namun demikian akan di paparkan juga pembagian lain yang dikemukakan oleh ulama lain, tetapi dengan melihat dari sisi lain.

1)   Majaz Fi Al-Mufrad
Majaz fi al-murad adalah majaz yang menggunakan lafadz bukan pada permulaan asal peletakannya. Macam ini disebut juga majaz al-lughawi, dan ia terbagi ke dalam beberapa macam[9]:
(a)    Al-hadzfu atau an-naqsu, yaitu majaz yang menitikberatkan pada adanya lafadz yang tersembunyi.
Contohnya dalam surat Yusuf: 82

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا
Artinya: "Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu".

Di dalam ayat ini tersimpan lafadz yang tersembunyi sebelum lafadz  القرية (negri), yaitu    lafadz أهل (penduduk).
(b)   Az-Ziyaadah,yaitu majaz yang menitikberatkan pada adanya lafadz atau hurup tambahan.
Contohnya dalam surat Asy-Syuuraa: 11

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia"

Sebagian ulama mengatakan bahwa hurup ك di depan lafadz مثله secara makna muradnya merupakan tambahan.
(c)    Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz plural (jama') namun yang dimaksudkan adalah sebagian saja.
Contohnya dalam surat Al-Baqarah ayat 19:
يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ
Artinya: "Mereka menyumbat telinganya dengan (anak) jarinya".
Kata أصابع di atas secara leksikal atau makna yang sebenarnya adalah jari-jari. Kiranya mustahil bagi orang-orang munafik Mekkah menyumbat telinganya dengan semua jari karena takut bunyi guntur yang mematikan. Tetapi yang dimaksud أصابع dalam ayat tersebut adalah sebagian dari jari-jari, bukan semuanya.
(d)   Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz yang merupakan bagian dari suatu nama benda, namun yang dimaksudkan adalah keseluruhannya; bukan sebagiannya.
Contohnya dalam surat Ar-Rahman: 27

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ
Artinya: "Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu".

Lafadz وجه (Wajah) di dalam ayat ini merupakan bagian dari ذات (Dzat) Tuhan, namun di dalam ayat tersebut tidak di ambil makna وجه tetapi dimaknai ذات (Dzat).
(e)    Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz khas (khusus), namun yang dimaksudkan adalah 'aam (makna umumnya).
Contohnya dalam surat Al-Munafiqun: 4

هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ
Artinya:"Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka".

Lafadz العدو (musuh) di dalam ayat tesebut maksudnya adalah الأعداء (semua musuh).
(f)    Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz 'aam (umum), namun yang dimaksudkan adalah khas (makna khususnya).
Contohnya dalam surat Asy-Syuuraa: 5

وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ
Artinya: "Dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi".

Lafadz من (orang) di dalam ayat tersebut di maksudkan khusus bagi المؤمنون (orang-orang yang beriman.
(g)   Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz al-'malzuum (yang diharuskan), namun yang dimaksudkan adalah al-laazim (yang mengharuskan).
Contohnya dalam surat Al-An'am: 39

صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ
Artinya: "Pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita".

Kalimat في الظلمات (dalam kegelapan) di dalam ayat tersebut -secara majaz- dari segi asalnya adalah lafadz عمي (buta), karena di dalam ayat lain di sebutkan: صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ, maka penyebutan في الظلمات di dalam ayat tersebut dikarenakan kalimat tersebut termasuk dari keharusan orang yang buta, artinya mata orang yang buta pasti merasakan gelap gulita.
(h)   Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz al-laazim (yang mengharuskan), namun yang dimaksudkan adalah al-'malzuum (yang diharuskan).
Contohnya dalam surat Al-Maaidah: 112

هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ
Artinya: "Sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?"

Lafadz يستطيع (sanggup/bisa) di dalam ayat tersebut -secara majaz- dari segi asalnya adalah lafadz يفعل (melakukan), hal ini dikarenakan kesanggupan mengharuskan untuk melakukan.
(i)     Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz al-musabbab (akibat), namun yang dimaksudkan adalah as-sabab (sebab).
Contohnya dalam surat Al-Mu'min: 13

وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقاً
Artinya: "Dan menurunkan untukmu rezki dari langit".

Lafadz رزقا (rizki) di dalam ayat ini merupakan akibat dari turunnya مطر (hujan)
(j)     Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz as-sabab (sebab), namun yang dimaksudkan adalah al-musabbab (akibat).
Contohnya dalam surat Al-Baqarah:

فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ
Artinya: "Barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu".

Lafadz اعتدوا makna asalnya adalah "Lakukanlah kezaliman" Makna ini tidak bisa dipakaikan karena bertentangan dengan ajaran Islam, yang melarang dari berbuat zalim. Jika kita artikan dengan makna majaz, bisa dipahami bahwa kata اعتدوا merupakan sebab dari makna yang dimaksud, karena kezaliman merupakan penyebab adanya جزاء (balasan). Jadi makna dari اعتدو  adalah "Balaslah".
(k)   Menamakan sesuatu dengan nama yang biasa disebutkan sebelumnya.
Contohnya dalam surat Thaahaa: 74

مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِماً فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ
Artinya: "Barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam".

Di dalam ayat ini orang yang datang kepada Tuhannya pada hari kiamat di namai مجرم (penjahat), hal itu di sesuaikan dengan keadaan dia sewaktu melakukan kejahata/dosa di dunia ini.
(l)     Menamakan sesuatu dengan nama yang biasa disebutkan setelah ia mengalami proses tertentu.
Contohnya dalam surat Yusuf: 36

إِنِّي أَرَانِي أَعْصِرُ خَمْراً
Artinya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur".

Lafadz خمر (arak) yang di sebutkan di dalam ayat ini adalah nama minuman yang di buat dari perasan عنب (anggur).
(m) Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz al-hal (keadaan), namun maksudnya adalah al-mahal (tempat) yang keadaannya seperti yang di ungkapkan tersebut).
Contohnya dalam surat Ali Imron: 107

فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: "Maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya".

Lafadz رحمة الله (rahmat Allah) di dalam ayat ini, maksudnya adalah الجنة (surga), hal ini karena keadaan surga penuh dengan rahmat Allah.
(n)   Menyampaikan ungkapan dalam bentuk lafadz al-mahal (tempat), namun maksudnya adalah al-hal (keadaannya).
Contohnya dalam surat Al-'Alaq: 17

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ
Artinya: "Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)".

Lafadz نادية adalah nama suatu tempat, dan yang di maksudkan di dalam ayat ini adalah penduduk yang mendiami tempat tersebut.
(o)   Menamakan sesuatu dengan nama alatnya.
Contohnya dalam surat Ibrahim: 4

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ
Artinya: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya".

Lafadz لسان (lisan) di dalam ayat ini merupakan alat untuk melafalkan bahasa, oleh karena itu lafadz tersebut di maknai secara majaz, yaitu bahasa.
(p)   Menamakan sesuatu dengan nama kebalikannya atau mengungkapkan suatu lafadz yang biasa di gunakan untuk sesuatu kebalikannya.
Contohnya dalam surat Al-Insyiqaaq: 24

فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya: "Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih".
Lafadz بشّر di dalam ayat ini biasanya di gunakan untuk الخبر السار (kabar/berita yang menyenangkan/menggembirakan), namun di dalam ayat tersebut di gunakan untuk kabar berita yang tidak menyenangkan sekali, yaitu عذاب أليم (azab yang pedih).
(q)   Mengidhafahkan atau menghubungkan fi'il (kata kerja) kepada sesuatu yang tidak biasanya di hubungkan dengannya.
Contohnya dalam surat Al-Kahfi: 77

فَوَجَدَا فِيهَا جِدَاراً يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ
Artinya: "Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka (Khidhr) menegakkan dinding itu".

Fi'il يريد (ingin) di dalam ayat ini biasanya di hubungkan dengan الحي (makhluk hidup), sedangkan di dalam ayat ini di hubungkan dengan lafadz جدار (dinding).
(r)     Menyampaikan ungkapan tentang sesuatu dengan fi'il (kata kerja), namun maksudnya adalah dari segi kedekatan makna fi'il tersebut terhadapnya atau dari segi kemulyaannya atau keinginannya.
Contohnya dalam surat An-Nahl: 61 dan Al-Maaidah: 6

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: "Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya".
إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا
Artinya: "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah.."

Fi"il جاء (telah tiba) yang di kaitkan dengan lafadz أجل (saat kematian) di dalam ayat pertama maksudnya قرب مجيئه (mendekati tibanya saat kematian). Dan fi'il قمتم (kalian mengerjakan) yang di hubungkan dengan lafadz الصلاة (shalat) di dalam ayat kedua maksudnya أردتم القيام (kalian ingin mengerjakan).
(s)    Menempatkan dua lafadz secara terbalik.
Contohnya dalam surat Ar-Ru'd: 38

لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
Artinya: "Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)".

Lafadz كتاب (kitab) seyogyanya di dahulukan dan lafadz أجل (masa akhir) di akhirkan, yakni لكل كتاب أجل (bagi tiap-tiap kitab ada masa akhirnya).
(t)     Menempatkan suatu shighah (bentuk suatu lafadz) pada kedudukan shighah lain.
Contohnya dalam surat Al-Baqarah: 255

وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ
Artinya: "Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah".

Lafadz علم (ilmu) di dalam ayat ini bershighah مصدر (kata dasar), sedangkan yang seyogyanya adalah shighah المفعول (kata kerja transitif) dari lafadz tersebut, yakni: معلوم (yang di ketahui), sehingga seyogyanya ayat tersebut bermakna: "Dan mereka tidak mengetahui apa-apa yang diketahui oleh Allah".

2)   Majaz Fi At-Tarkiib[10]
Majaz fi at-tarkiib adalah majaz yang menyandarkan suatu perbuatan atau kesangsian kepada sesuatu yang tidak memiliki originalitas, dikarenakan adanya hubungan keterkaitan antara keduanya. Majaz ini di sebut juga majaz al-aql dan majaz al-isnaad.
 Contohnya dalam surat Al-Anfaal: 2
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً
Artinya: "Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya)".
Di dalam ayat ini terdapat suatu perbuatan Allah, yaitu الزيادة (penambahan), yang di sandarkan kepada الآيات (ayat-ayat), hal ini karena dengan dibacakannya ayat-ayat tersebut menjadi sebab bertambahnya keimanan mereka.
Majaz ini terbagi ke dalam empat macam, yaitu sbb:
(a)    Penyandaran yang kedua sisnya adalah haqiqat (makna asli).
Contohnya dalam surat Az-Zalzalah: 2

وَأَخْرَجَتِ الأَرْضُ أَثْقَالَهَا
Artinya: "Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya".

Penggunaan lafadz أخرج (telah mengeluarkan) dan الأرض (bumi) di dalam ayat ini adalah secara haqiqat.
(b)   Penyandaran yang kedua sisnya adalah majaz.
Contohnya dalam surat Al-Baqarah: 16

فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ
Artinya: "Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka".

Penggunaan lafadz ربح (beruntung) dan تجارة (perniagaan) di dalam ayat ini adalah secara majaz.
(c)    Penyandaran yang sisi pertamanya haqiqat dan sisi lainya majaz.
Contohnya dalam surat Ar-Ruum: 35

أَمْ أَنْزَلْنَا عَلَيْهِمْ سُلْطَاناً
Artinya: "Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan".

Penggunaan lafadz أنزل (telah menurunkan) di dalam ayat ini adalah secara haqiqat, sedangkan penggunaan lafadz سلطان (kekuasaan) adalah secara majaz sehingga ia di maknai برهان (dalil/keterangan).
(d)   Penyandaran yang sisi pertamany majaz dan sisi lainya haqiqat.
Contohnya dalam surat Al-Ma'aarij: 15-17

كَلَّا إِنَّهَا لَظَى.  نَزَّاعَةً لِلشَّوَى.  تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّى
Artinya: "Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama)".

Penggunaan lafadz تدعو (memanggil) di dalam ayat ini adalah secara majaz karena di sandarkan kepada lafadz النار (api neraka).
Pembagian majaz tersebut di atas apabila di lihat dari segi pertalian atau penyesuaian antara makna asli dan makna majaznya, terbagi ke dalam dua macam[11]:
1)   Majaz bi al-isti'arah, yaitu majaz yang pertalian antara makna asli dan makna majaznya berupa musyabahah (penyerupaan/kemiripan).
Contohnya dalam surat Ibrahim: 1

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Artinya: "Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji".

Lafadz الظلمات (kegelapan) dan النور (cahaya) di dalam ayat ini majaz bi al-isti'arah, dimana lafadz pertama di maksudkan untuk menunjukan الكفر )kekufuran) dan الجهل (kebodohan) terhadap kaidah keimanan dan pemahaman agama Islam, sedangkan lafadz kedua di maksudkan untuk menunjukan الإيمان (keimanan) dan العلم (kepintaran) dengan kaidah keimanan dan pemahamam agama islam. Hubungan antara الظلمات dengan الكفر dan الجهل, juga antara النور dengan الإيمان dan العلم ini adalah musyabahah (penyerupaan/kemiripan)[12].
2)   Majaz Mursal, yaitu majaz yang pertalian antara makna asli dan makna majaznya bukan musyabahah (penyerupaan/kemiripan).
Contohnya dalam surat Al-Mu'min: 13

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا
Artinya: "Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit".

Lafadz رزق (rizki) dalam ayat ini merupakan majaz dari lafadz مطر (hujan), karena air hujanlah yang turun dari langit dan yang menjadi sumber kehidupan bagi manusia serta penyebab berlangsungnya kehidupan, sehingga mereka bisa berusaha mencari rizki dari Allah. Dan hubungan antara رزق dengan مطر ini merupakan hubungan akibat-sebab, dimana rizki itu merupakan akibat yang di sebabkan oleh turunnya air[13].

d.   Faedah-faedah Majaz
Diantara faedah-faedah penggunaan majaz adalah sebagai berikut[14]:
1)      Al-iijaz yakni memperingkas suatu kalimat atau ungkapan, seperti kalimat: بنى الأمير المدينةَ (seorang amir telah membangun suatu kota) lebih ringas daripada dengan menyebutkan البنائينَ والمهندسينَ (perumahan-perumhan dan para insinyur) dan sebagainya.
2)      Memperluas lafadz, dimana seandainya suatu lafadz tidak dimajazkan maka setiap makna hanya memiliki satu komposisi.
3)      Menampilkan suatu makna dalam suatu gambaran yang dalam dan dekat kepada akal fikiran.


2.   Kinayah
a.    Definisi Kinayah
Kinayah secara etimologis berasal dari kata bahasa arab الكناية, bentuk masdar (infinitif) dari kata كَنَى-يَكني-كِناية yang mempunyai arti bahasa: ) أن تتكلم بشيء وتريد غيرهkamu membicarakan tentang sesuatu, namun kamu menginginkan selain itu)[15].
Sedangkan secara terminologis[16]:

الكنايةُ لفظٌ أطلق أريدَ به لازمُ معناهُ مع جوازِ إرادة معناه
Kinayah adalah suatu lafadz yang diungkapkan dengan menitikberatkan kepada makna seharusnya beserta membolehkan penyebutan makna aslinya.
Contohnya kinayah al-Qur'an mengenai lafadz الجماع (bersenggama( dengan lafadz اللمس والملامسة (menyentuh dan bersentuhan), الحرث (bercocok tanam) dan sebagainya.

b.   Sebab-sebab Kinayah
Kinayah memiliki beberapa sebab, diantaranya[17]:
1)   Peringatan akan keagungan kekuasaan Allah swt, seperti firman-Nya mengenai kinayah tentang Nabi Adam dalam surat Al-A'raf: 189:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ
Artinya: "Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu".

2)   Kecerdasan yang berbicara, seperti firman Allah swt mengenai kinayah tentang Zaid dalam surat Al-Ahzaab: 40:

ما كانَ مُحَمَّدٌ أَبا أَحَدٍ مِنْ رِجالِكُمْ
Artinya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu".

3)   Meninggalkan suatu lafadz kepada lafadz yang lebih indah darinya atau menggantikannya dengan lafadz indah tersebut, seperti kinayah lafadz النعجة (kambing betina) mengenai المرأة (wanita) dalam firman Allah swt surat Shaad: 23:

إِنَّ هذا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ واحِدَةٌ
Artinya: "Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja".

4)   Menyebutkan suatu lafadz yang vulgar atau kasar di dengar, maka dikinayahkan dengan lafadz yang tidak vulgar atau tidak kasar di dengar, seperti kinayah tentang الجماع (bersenggama) dengan lafadz الملامسة (bersentuhan) sebagaimana dalam firman Allah swt surat An-Nisa: 43:

أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ
Artinya: "Atau kamu telah menyentuh perempuan".

5)   Membaguskan suatu lafadz, seperti kebiasaan orang arab mengkinayahkan حرائر النساء (pakaian sutra perempuan) dengan البيض (telur), hal ini juga sebagaimana firman Allah swt dalam surat Ash-Shaaffaat: 49:

بَيْضٌ مَكْنُونٌ
Artinya: "Telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik".

6)   Bermaksud untuk menceritakan kepandaian atau kemahiran, seperti kinayah tentang النساء (wanita) bahwa mereka dibesarkan dalam keadaan الترفه (kemewahan) dan التزيين (berhias), sebagaimana firman Allah swt dalam surat Az-Zukhruf: 18:

أَوَ مَنْ يُنَشَّؤُا فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصامِ غَيْرُ مُبِينٍ
Artinya: "Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan".

7)   Bermaksud untuk melebih-lebihkan dalam mencaci maki, seperti lafadz الغُلُّ (terbelenggu) kinayah untuk البخل (kekikiran), sebagaimana firman Allah swt dalam surat Al-Israa: 29:

وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ
Artinya: "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu".

8)   Peringatan terhadap ujung nasibnya, seperti ujung nasibnya Abu Lahab adalah اللهب (api yang berkobar) yakni jahannam, karena itulah Allah swt menyebut namanya denga أبو لهب (bapa api yang menyala) dalam surat Al-Masad: 1:

تَبَّتْ يَدا أَبِي لَهَبٍ
Artinya: "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa".

9)   Bermaksud meringkas, diantaranya kinayah mengenai perbuatan-perbuatan yang beragam dengan lafadz (فعل), seperti firman Allah swt dalam surat Al-Baqarah: 24:

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا
Artinya: "Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)".

Yakni: maka jika kamu tidak dapat mendatangkan satu surat yang seperti itu, dan pasti kamu tidak dapat mendatangkannya.
10)  Menitikberatkan kepada jumlah kalimat yang maknnya berbeda dengan makna dzahirnya, kemudian diambil kesimpulannya dengan tanpa mempertimbangkan kosakatanya dari segi haqiqat atau majaznya, sehingga diungkapkannya sesuai dengan maksudnya, seperti lafadz الاستواء (Arsy) kinayah mengenai الملك (kekuasaan) sebagaimana firman Allah dalam surat Thaahaa: 5:

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى
Artinya: "Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy".

c.    Macam-macam Kinayah
Ulama ahli bayan membagi kinayah ke dalam tiga macam, yaitu sebagai berikut[18]:
1)   Kinayah sifat
Kinayah sifat dapat diketahui dari adanya penyebutan mausuf (yang disifati) dalam konteks kalimat, baik itu dari lafadznya atau ucapannya maupun dari dzahirnya.
Misalnya seperti penyebutan lafadz الصديق yakni Abu bakar , الفاروق yakni Umar dan سيف الله yakni Khalid bin Walid.
Contoh dari al-Qur'an misalnya firman Allah swt yang menyebutkan sifat-sifat Rasulullah saw dalam surat Al-Ahzab: 45-46:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا.  وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا
Artinya: "Wahaai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi".

2)   Kinayah mausuf (yang di sifati)
Kinayah mausuf dapat di ketahui dari adanya penyebutan sifat dalam konteks kalimat, baik itu dari segi penyebutannya secara langsung maupun dari segi pembawaannya.
Misalnya seperti penyebutan "yang mengucapkan ض" yakni orang Arab, دار السلام yakni kota Baghdad dan طيبة yakni Madinah Al-munawwarah.
Contoh dari al-Qur'an misalnya firman Allah swt mengenai kinayah tentang bahtera dalam surat Al-Qamar: 13:

وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ
Artinya: "Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku".

3)   Kinayah nisbah
Kinayah nisbah yaitu menisbatkan sesuatu kepada sesuatu yang lain, baik dengan penetapan bukti maupun penolakan atau sangkalan.
Misalnya dalam pepatah arab yang mengatakan: خير الناس من ينفع الناس (sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi manfaat kepada sesama) terdapat kinayah mengenai penolakan adanya kebaikan di dalam diri orang yang tidak memberi manfaat kepada sesamanya.
Contoh dari al-Qur'an misalnya firman Allah swt mengenai kinayah tentang persediaan Allah swt untuk kelanggengan adanya langit dan bumi, seperti persediaan adanya daya listrik untuk kelanggengan adanya cahaya dalam lampu listrik, apabila persediaan daya listrik habis atau diputus maka tidak akan ada cahaya lampu listrik tersebut, hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat Faathir: 41:

إنّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ والأَرْضِ أَنْ تَزُولاَ
Artinya: "Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap".


C.    PENUTUP
Al-Qur'an merupakan kalamullah yang diturunkan dengan menggunakan gaya bahasa Arab yang tinggi dan indah, yang terlihat –diantaranya- dari ungkapan-ungkapan metaforik-simboliknya (majaz) dan kiasan-kiasannya atau sindiran-sindirannya (kinayah).
Majaz identik dengan peralihkan makna dasar ke makna lainnya, karena alasan tertentu, atau pelebaran medan makna dari makna dasarnya, sedangkan kinayah identik dengan penggunaan sebuah lapadz atau kata untuk menyatakan suatu hal lain dengan menitikberatkan pada makna seharusnya karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.
Majaz dan kinayah terbagi ke dalam: majaz fi at-tarkiib dan majaz fi al-mufrad, namun dari segi pertalian atau penyesuaian antara makna asli dan makna majaznya, majaz terbagi ke dalam dua macam: majaz bi al-isti'arah dan majaz mursal. Sedangkan kinayah terbagi ke dalam tiga macam: kinayah sifat, kinayah mausuf dan kinayah nisbah.
Majaz dan kinayah tersebut sengaja diketengahkan oleh Allah swt dalam kalam-Nya dengan maksud agar menjadi perhatian manusia sekaligus melemahkan gaya bahasa arab khususnya dan bahasa lainnya pada umumnya dihadapan gaya bahasa-Nya (kalamullah), sehingga mereka tertarik dan terpengaruh olehnya, dan akhirnya mereka mengikuti apa yang di kandungnya, juga agar memberikan jembatan bagi rasio manusia yang terbatas dengan masalah-masalah ukhrawi dan hal-hal metafisik. 
Wallahu a’lam bi as-shawab.



DAFTAR PUSTAKA

Abu Zaid, Nasr Hamid. Naqd al-Khitaab al-Diniy. Kairo: Jumhuuryyah Mishr al-’Arabyyah, 1994.
Al-Ibyaarii, Ibrahim. Al-Mausuu'ah al-Qur'aaniyah, Muassasah Sijil Al-Arab, 1405.
_______________. Al-Ijtiyaaz Ila Asraari Al-Majaz, Al-Maktabah Asy-Syaamilah.
Al-Jaarim, Ali dan Amin, Mushthafa. Al-Balaghah Al-Wadhihah, Al-Maktabah Asy-Syaamilah.
Al-Midaanii, 'Abdurrahman. Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, Al-Maktabah Asy-Syaamilah.
Al-Qoi'ii, Dr. Muhammad Abdulmun'im. Al-Ashlaan Fi 'Ulum Al-Qur'an, Dar Al-Mun'im Al-Qoi'ii, 1996.
Ash-Sha'iidii, Abdulmu'taal. Bughyatu Al-Iidhah Litalkhishi Al-Miftaah Fi 'Ulumi Al-Balaghah, Maktabatu Al-Adab, 2005.
As-Sudais, Abdullah. Al-Majaaz 'Inda Al-Usuliyyin Bain Al-Mujiiziin Wa Al-Maani'iin, Al-Maktabah Asy-Syaamilah.
As-Suyuthi. Al-Itqan Fi 'Ulum Al-Qur'an, Al-Haiah Al-Misriyah Al-'Amah, 1974.
Asy-Syuhuud, Ali bin Naayif. Al-Khulaashah Fi 'Ilmu Al-Balaaghah, Al-Maktabah Asy-Syaamilah.
Az-Zarkasyi. Al-Burhan Fi 'Ulum Al-Qur'an, Dar Ihya Al-Kutub Al-'Arabiyah, 1957.



[1] QS. Ibrahim: 4.
[2] Lihat: Al-Majaaz 'Inda Al-Usuliyyin Bain Al-Mujiiziin Wa Al-Maani'iin, Abdullah As-Sudais, Al-Maktabah Asy-Syaamilah, hal. 7. Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, 'Abdurrahman Al-Midaanii, Al-Maktabah Asy-Syaamilah, hal. 628.
[3] http://infopesantren.web.id/ppssnh.malang/cgibin/content.cgi/artikel/dialektika_gaya_bahasa_quran.single.
[4] Lihat: Al-Khulaashah Fi 'Ilmu Al-Balaaghah, Ali bin Naayif Asy-Syuhuud, Al-Maktabah Asy-Syaamilah, hal. 39. Al-Ijtiyaaz Ila Asraari Al-Majaz, Al-Maktabah Asy-Syaamilah, hal. 5. Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, op. cit, hal. 628.
[5] Lihat: Al-Majaaz 'Inda Al-Usu liyyin Bain Al-Mujiiziin Wa Al-Maani'iin, op. cit, hal. 11.
[6] Nasr Hamid Abu Zaid,  Naqd al-Khitaab al-Diniy. Kairo: Jumhuuryyah Mishr al-’Arabyyah, Abu Zaid, hal. 122.
[7] http://www.jurnallingua.com/edisi-2009/10-vol-1-no-1/78-gaya-bahasa-metafor-dalam-al-quran.html.
[8] Lihat: Ibid, hal. 9. Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, op. cit, hal. 628-630. Al-Itqan Fi 'Ulum Al-Qur'an, As-Suyuthi, Al-Haiah Al-Misriyah Al-'Amah, 1974, jil. 3, hal. 122. Al-Burhan Fi 'Ulum Al-Qur'an, Az-Zarkasyi, Dar Ihya Al-Kutub Al-'Arabiyah, 1957, cet I, jil. 2, hal. 256-258.
[9] Lihat: Al-Itqan Fi 'Ulum Al-Qur'an, op. cit, hal. 122-128. Al-Burhan Fi 'Ulum Al-Qur'an, op.cit, hal. 259-284.
[10] Lihat: Al-Itqan Fi 'Ulum Al-Qur'an, op. cit, hal. 120-121. Al-Burhan Fi 'Ulum Al-Qur'an, op.cit, hal. 256-258.
[11] Lihat: Al-Khulaashah Fi 'Ilmu Al-Balaaghah, op. cit, hal. 39. Al-Ijtiyaaz Ila Asraari Al-Majaz, op. cit, hal. 5.
[12] Lihat: Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, op. cit, hal. 648-649.
[13] Lihat: http://wattpad.com/139375-majaz-balaghoh?p=1
[14] Lihat: Al-Khulaashah Fi 'Ilmu Al-Balaaghah, op. cit, hal. 42.
[15] Lihat: Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, op. cit, hal. 567. Al-Khulaashah Fi 'Ilmu Al-Balaaghah, op. cit, hal. 52.
[16] Lihat: Al-Ashlaan Fi 'Ulum Al-Qur'an, Dr. Muhammad Abdulmun'im Al-Qoi'ii, Dar Al-Mun'im Al-Qoi'ii, 1996, cet IV, hal. 314. Bughyatu Al-Iidhah Litalkhishi Al-Miftaah Fi 'Ulumi Al-Balaghah, Abdulmu'taal Ash-Sha'iidii, Maktabatu Al-Adab, 2005, hal. 369. Al-Balaghah Al-Wadhihah, Ali Al-Jaarim dan Mushthafa Amin, Al-Maktabah Asy-Syaamilah, hal. 146. Al-Itqan Fi 'Ulum Al-Qur'an, op. cit, jil. 3, hal. 159.
[17] Lihat: Al-Mausuu'ah al-Qur'aaniyah, Ibrahim Al-Ibyaarii, Muassasah Sijil Al-Arab, 1405 H, hal. 1097. Al-Burhan Fi 'Ulum Al-Qur'an, op.cit, jil. 2, hal. 301-309.
[18] Lihat: Al-Khulaashah Fi 'Ilmu Al-Balaaghah, op. cit, hal. 52-53. Al-Balaaghah Al-'Arabiyyah: Asaasuha Wa 'Uluumuha Wa Funuunuha, op. cit, hal. 568. Al-Balaghah Al-Wadhihah, op. cit, hal. 146. Bughyatu Al-Iidhah Litalkhishi Al-Miftaah Fi 'Ulumi Al-Balaghah, op. cit, hal. 370.

2 komentar: